KANALPojok News

Transformasi Pesantren Jadi Pusat Ekonomi Syariah yang Mandiri dan Berdaya

Transformasi Pesantren Jadi Pusat Ekonomi Syariah yang  Mandiri dan Berdaya
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf. (FOTO: Istimewa)

COWASJP.COM – Masa depan pesantren bukan lagi hanya sebagai pusat pendidikan agama semata. Pesantren bertransformasi menjadi benteng ekonomi umat yang tangguh, modern, dan mandiri. 

Bukti transformasi itu baru saja ditorehkan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.
 
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Badan Gizi Nasional dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi menggelar Forum Edukasi dan Temu Bisnis Keuangan Syariah (FEBIS), serta program Santri Cakap Literasi Keuangan Syariah (SAKINAH), Selasa (14/4/2026).
 
Ini bukan sekadar seminar biasa. Ini merupakan gerakan strategis untuk membangun ekosistem ekonomi pesantren yang kokoh, berkelas, dan siap bersaing di kancah nasional.
 
Suasana semakin sakral dan bersejarah saat dilakukan prosesi peresmian. Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, didampingi Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Irjen Pol (Purn) Sony Sanjaya, secara simbolis menandatangani plakat prasasti.
 
Momen ini menandai lahirnya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di bawah naungan Tim Koordinasi dan Akselerasi (TKA) PBNU.
 
"Kegiatan ini merupakan langkah nyata dalam peresmian total 27 titik SPPG TKA PBNU yang tersebar di berbagai provinsi strategis. Meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kalimantan Barat, hingga Sumatera Utara," jelas keterangan resmi kegiatan tersebut.
 
Dalam sambutannya yang penuh semangat, Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menegaskan pentingnya sinergi ini. Beliau menekankan bahwa penguatan gizi dan ekonomi adalah fondasi utama untuk mencetak generasi yang sehat, cerdas, dan kuat. Pesantren diharapkan tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam menyejahterakan umat melalui program-program strategis negara.
 
Kegiatan akbar ini menjadi bukti nyata bahwa pemerintah dan regulator sangat serius memprioritaskan penguatan ekonomi berbasis komunitas. Pesantren dipandang memiliki posisi strategis yang luar biasa. Sebagai pusat pendidikan sekaligus mesin penggerak ekonomi masyarakat sekitarnya.
 
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono, menegaskan bahwa program yang digulirkan ini berorientasi jangka panjang untuk kesejahteraan generasi.
 
“Program ini bukan hanya bicara kebutuhan hari ini, tapi investasi untuk masa depan. Pesantren memiliki potensi besar untuk naik kelas, dari sekadar lembaga pendidikan menjadi pusat bisnis dan pemberdayaan yang kuat,” ujarnya.
 
Dari Gizi Gratis Hingga Peluang Bisnis yang Terbuka Lebar
 
Salah satu poin menarik adalah keterkaitan erat antara program nasional dan ekonomi pesantren. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) misalnya, ternyata tidak hanya soal kesehatan, tapi juga membuka peluang ekonomi raksasa.
 
Dari hulu ke hilir, mulai dari pertanian, peternakan, perikanan, hingga perkebunan, semuanya terlibat dalam rantai pasok. Di sinilah peran OJK hadir bukan hanya sebagai pengawas, tapi juga sebagai katalisator yang menjembatani kebutuhan modal dan pembiayaan.
 
Melalui program FEBIS, para pengusaha dan pengurus pesantren tidak hanya diberi edukasi, tapi langsung dipertemukan dengan lembaga pembiayaan syariah (business matching). Jadi, ide usaha tidak tinggal diam, tapi langsung bisa terealisasi dengan pendanaan yang halal dan mudah.
 
“OJK hadir memfasilitasi. Kami pastikan akses permodalan terbuka lebar, dan sistem keuangannya sehat sesuai prinsip syariah,” tegas Dicky.
 
Kepala OJK Kediri, Ismirani Saputri, menyatakan kebanggaannya karena Lirboyo dipilih menjadi lokasi peluncuran yang menjadi model atau percontohan nasional.
 
“Harapannya, kegiatan ini menjadi pemicu semangat. Literasi keuangan meningkat, akses modal terbuka, usaha berkembang sehat, dan pesantren benar-benar menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat yang mandiri dan berdaya saing tinggi,” ungkapnya.
 
Semua elemen bersatu padu: Pemerintah, Regulator, Lembaga Keuangan, hingga Pimpinan Pesantren, bergandengan tangan membangun ekosistem ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
 
Kesuksesan kegiatan di Pesantren Lirboyo ini adalah pemantik api bagi seluruh pesantren di Indonesia. Sudah saatnya kita tidak lagi hanya menjadi objek, tapi menjadi subjek yang kuat dalam ekonomi.
 
Dengan hadirnya 27 SPPG di berbagai daerah, ini bukti bahwa gerakan ini sudah berjalan masif. Sudah saatnya pondok pesantren memiliki manajemen keuangan yang modern, akses permodalan yang lancar, dan usaha-usaha produktif yang maju.
 
Jangan biarkan potensi besar ini terpendam hanya karena kurangnya pemahaman dan akses. Mari tiru langkah Lirboyo! Mari bangun ekosistem ekonomi pesantren yang syar'i, modern, dan membawa kesejahteraan.

Karena pesantren yang kuat, ekonomi yang maju, itulah harapan besar bagi kebangkitan umat dan bangsa. Wallahu A'lam Bisshawab. (*)


Pewarta : Imam Kusnin Ahmad
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :