KANALPojok Features

Manusia Harus Tahu Sangkan Parane Dumadi

Manusia Harus Tahu Sangkan Parane Dumadi
KH Syaikhuddin Rohman di pengajian rutin di Masjid Al Musthofa, Bakung, Blitar. (FOTO: Istimewa)

COWASJP.COM – Di tengah syahdunya suasana pembukaan Majelis Ta'lim Pengajian Rutin Rabu Malem Kamis Legi di Masjid Al Musthofa Bakung Udanawu, Blitar, 8/4 2026, KH. Syaikhuddin Rohman mengusung sebuah pesan mendalam yang berakar pada kearifan lokal sekaligus ajaran ilahiah, Yaitu: "Manusia itu harus tahu sangkan parane dumadi."

Ungkapan bijak dari para leluhur Jawa yang bermakna "asal-muasal dan tujuan keberadaan" ini, menjadi poros bagi renungan tentang kerendahan hati. 

Mantan ketua MUI Kabupaten Blitar ini dengan inspirasi lirik lagu legendaris dari Rhoma Irama yang berjudul "Setetes Air Hina", menekankan bahwa pemahaman akan dari mana kita berasal dan ke mana kita akan kembali adalah kunci utama untuk menanggalkan kesombongan, menumbuhkan kerendahan hati, dan terutama, menumbuhkan rasa malu untuk berlaku angkuh terhadap sesama.
 
Sangkan: Asal-Muasal yang Mengingatkan Kerapuhan Manusia
 
Dalam pengajian tersebut, Kiai Cikut, panggilan akrabnya, menguraikan sangkan atau asal-muasal manusia yang sejatinya begitu "hina", menjadi dasar kuat untuk menjauhi kesombongan.
 
1. Nabi Adam: Dari Tanah. Al-Qur'an menjelaskan asal penciptaan manusia dimulai dari Nabi Adam AS, nenek moyang kita semua, yang diciptakan langsung dari tanah. Firman Allah SWT, "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah," (QS. Sad: 71), menjadi bukti nyata kekuasaan Allah yang Maha Agung. 

Manusia pertama yang begitu mulia, dibentuk dari gumpalan tanah liat. Ini adalah sangkan pertama, yang seharusnya mengingatkan bahwa secara materi, kita terbuat dari sesuatu yang rendah. Dan kelak akan kembali menjadi tanah.

2. Keturunan Adam: Dari Setetes Air yang Hina. Setelah Nabi Adam, semua keturunannya, yaitu kita semua yang hadir di muka bumi, diciptakan melalui proses biologis yang diawali dari "setetes air yang hina" atau air mani. 

Allah SWT berfirman, "Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina (air mani)." (QS. As-Sajdah: 8). Inilah sangkan kedua yang menjadi titik tekan utama. Dari cairan yang dalam pandangan manusia sering dianggap remeh, bahkan menjijikkan, kitalah yang terbentuk menjadi makhluk yang sempurna. Pesan dari sangkan inilah yang resonansinya begitu kuat dalam lirik lagu.

Syair  "Setetes Air Hina" karya Rhoma Irama. Sang Raja Dangdut itu dengan tegas menyuarakan:
"Hei, tidakkah kau perhatikan / Dari apakah dulu dirimu dijadikan? / Hei, dari tetes air hina / Kau diciptakan lalu engkau disempurnakan. "Kalimat-kalimat ini adalah pengingat yang menusuk sanubari. Jika dari asal-usul yang begitu sederhana dan "hina" ini kita tercipta, apa yang lantas pantas kita sombongkan?. 

Kesadaran akan asal-muasal ini harusnya menumbuhkan rasa malu untuk berbangga diri di hadapan Sang Pencipta, apalagi di hadapan sesama makhluk.
 
Parane Dumadi: Tujuan Akhir dan Keterbatasan Duniawi
 
Selain sangkan, Kiai Syaikhuddin juga mengingatkan tentang parane dumadi, yaitu tujuan akhir dan perjalanan kehidupan manusia yang terbatas. Pemahaman ini memperkuat urgensi untuk senantiasa rendah hati:
 
1. Masa Lampau (Alam Arwah & Rahim): Sebelum lahir ke dunia, ruh kita telah bersaksi akan keesaan Allah di Alam Arwah, dan fisik kita dibentuk di dalam rahim ibu. Fase ini adalah bukti ketergantungan kita pada kehendak Ilahi sejak awal.

2. Masa Sekarang (Dunia): Kehidupan di dunia ini hanyalah persinggahan sementara, sebuah fase ujian dan ladang amal. Segala harta, jabatan, kekuasaan, atau kecantikan yang kita miliki adalah titipan fana. Rhoma Irama pun menyindirnya dalam lirik lagu "Setetes Air Hina":
"Bukanlah engkau dilahirkan telanjang / Tanpa sehelai benang / Kemudian berkat rahmat-Nya Tuhan / Kau bisa jadi orang."Ini adalah pengingat bahwa semua pencapaian di dunia ini adalah anugerah, bukan semata-mata hasil upaya pribadi.

3. Masa Depan (Alam Barzakh & Akhirat): Puncak parane dumadi adalah kehidupan setelah mati, dimulai dari alam kubur hingga Hari Kebangkitan dan pengadilan Allah di akhirat. Pada hari itu, semua kemewahan duniawi akan sirna, dan hanya amal saleh serta ketakwaan yang akan menjadi bekal.
 
Kesadaran akan parane dumadi ini seharusnya membuat kita malu untuk berbangga diri dengan hal-hal duniawi yang fana, apalagi sampai merendahkan sesama yang juga sedang menjalani perjalanan menuju tujuan akhir yang sama.
 
Jangan Angkuh dan Sombong: Malu pada Sesama Manusia
 
Poin inti yang ditekankan oleh Kiai Syaikhuddin, diperkuat oleh lirik lagu "Setetes Air Hina", adalah larangan keras untuk bersikap angkuh dan sombong. Rhoma Irama secara lugas menyuarakan:
 
"Hei, jangan mentang-mentang punya / Memandang orang tidak dengan sebelah mata.
Hei, jangan mentang-mentang kuasa / Menyuruh orang tolak pinggang setinggi dada."
 
Lalu, ia mempertegas dengan pernyataan yang menggugah:
"Itu kesombongan (itu kesombongan) / Itu keangkuhan (itu keangkuhan) / Bukan pakaianmu tapi pakaian Tuhan / Yang berhak disembah oleh segenap alam."
 
Ini adalah esensi dari "malu pada sesama manusia." Bagaimana kita bisa berlaku angkuh dan sombong, merendahkan orang lain, sementara kita dan mereka memiliki sangkan yang sama (dari tanah, dari setetes air hina) dan parane dumadi yang sama (menuju kematian dan akhirat)? Sikap angkuh dan sombong tidak hanya melanggar adab kepada sesama, tetapi juga merupakan bentuk ketidaksyukuran dan pembangkangan kepada Allah SWT, karena melupakan asal-usul diri dan menyaingi sifat Allah yang Maha Kuasa.
 
Implikasi Filosofi Sangkan Parane Dumadi dalam Kehidupan
 
Pengajian di Masjid Al Musthofa ini menjadi cermin betapa relevannya filosofi "Sangkan Parane Dumadi" dalam membentuk karakter Muslim sejati:
 
-Menumbuhkan Tawadhu' (Rendah Hati): Kesadaran akan asal-usul yang sederhana dan keterbatasan diri akan menumbuhkan sikap rendah hati.

-Meningkatkan Empati: Memahami bahwa kita semua adalah bagian dari kemanusiaan yang sama, berasal dari sumber yang sama, akan mendorong empati dan kasih sayang kepada sesama.

-Mencegah Kezaliman: Kesombongan seringkali berujung pada kezaliman. Dengan memahami sangkan parane dumadi, seseorang akan malu untuk menindas atau merendahkan orang lain.

-Menguatkan Ketaatan: Mengingat bahwa semua adalah karunia dan akan kembali kepada-Nya, akan memotivasi untuk beribadah dan beramal saleh dengan tulus.
 
Sebagai penutup pesan bijak dari KH. Syaikhuddin Rohman di Majelis Taklim Masjid Al Musthofa, yang diperkaya dengan lirik lagu Rhoma Irama "Setetes Air Hina", adalah pengingat yang tak lekang oleh waktu. "Sangkan Parane Dumadi" bukanlah sekadar frasa filosofis. Melainkan cerminan ajaran Islam yang fundamental tentang hakikat penciptaan dan tujuan hidup manusia.
 
Mari kita senantiasa merenungkan dari mana kita berasal dan ke mana kita akan pergi. Dengan mengingat bahwa kita berasal dari "setetes air hina" dan segala yang kita miliki adalah karunia sementara, kita akan merasa malu untuk bersikap angkuh, sombong, atau merendahkan sesama. Justru, kesadaran ini akan mendorong kita untuk berendah hati, bersyukur, dan memuliakan setiap insan. Karena di dalam pandangan  Allah, yang membedakan hanyalah ketakwaan. 

Semoga kita semua mampu menginternalisasi hikmah ini dalam setiap aspek kehidupan kita. Aamiin ya Rabbal Alamin. Wallahualam Bisshawab. (*)


Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :