KANALPojok News

Dari Ciganjur ke Sumenep, Ning Inayah Wahid Resmi Nikah dengan Ra Mamak, Lora Poliglot Asal Madura

Dari Ciganjur ke Sumenep, Ning Inayah Wahid Resmi Nikah dengan Ra Mamak, Lora Poliglot Asal Madura
Ning Inayah dan Ra Mamak kompak di pelaminan. (FOTO: Istimewa)

COWASJP.COM – Ada kebahagiaan yang tumbuh indah, bukan dari gemerlap lampu sorot, tapi dari kesederhanaan yang memikat hati. 

Kabar bahagia: Ning Inayah Wulandari Wahid telah resmi mengakhiri lembar masa lajangnya. 

Putri bungsu sang inspirator bangsa, almarhum KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) telah dipersunting oleh seorang kiai muda karismatik, KH Muhammad Shalahuddin A. Warits. Atau yang akrab disapa Ra Mamak, dari Pondok Pesantren Annuqayah, Sumenep, Madura.

Sebuah perjalanan cinta yang dimulai dengan akad khidmat di Ciganjur, kini mekar dengan syukuran hangat di tanah Madura. Sebuah pertemuan yang indah antara darah pejuang demokrasi dan keturunan ulama pengasuh pesantren.

Cinta yang Tumbuh dengan Sederhana

Siapa yang tak kenal Ning Inayah Wahid? Wanita tangguh yang mewarisi kecerdasan dan kelucuan khas Gus Dur ini, dikenal dengan gaya bicaranya yang blak-blakan namun penuh kearifan, serta aktivismenya yang kritis. 

Kini, sosok yang sering membuat warganet tersenyum dengan banyolan-nya yang segar ini, resmi memiliki pendamping hidup.

Pasangan yang dipilihnya pun bukan sosok sembarangan. Ra Mamak, demikian panggilan akrab sang suami, adalah putra dari KH. Abd. Warits Ilyas, dan merupakan pengasuh muda di Pondok Pesantren Annuqayah, Lubangsa Raya, Sumenep. 

Gelar "Lora" atau "Ra" yang disandangnya bukan sekadar sebutan, melainkan penghormatan tinggi karena ia adalah putra kiai yang memiliki kedudukan istimewa dan dihormati di lingkungan pesantren.

Prosesi akad nikah keduanya sebenarnya telah dilaksanakan sejak awal tahun 2025 lalu, tepatnya pada Rabu, 22 Rajab 1446 H atau bertepatan dengan 22 Januari 2025. Acara sakral itu digelar secara sangat tertutup dan sederhana di kediaman keluarga di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan. 

Wali nikah yang mengikrarkan janji suci saat itu adalah Umar Wahid, dan hanya dihadiri oleh keluarga inti kedua belah pihak. Benar-benar momen sakral yang dijaga privasinya dengan sangat baik.

Barulah pada bulan April 2026 ini, kebahagiaan itu dibagikan secara luas kepada khalayak melalui acara syukuran dan silaturahmi besar yang digelar di Pondok Pesantren Annuqayah. 

Kedatangan rombongan keluarga besar Wahid disambut dengan hangat dan penuh kekeluargaan oleh seluruh warga pesantren dan masyarakat Sumenep.

Kiai Masa Kini yang Multitalenta

Lahir pada 16 April 1982, Ra Mamak ternyata sosok kiai yang sangat update dan berwawasan luas. Selain sibuk mengasuh pesantren dan mendidik santri, ia juga merupakan dosen tetap di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) sejak tahun 2015.

Yang membuat publik makin terkagum-kagum, kiai satu ini adalah seorang poliglot sejati! Ia tidak hanya fasih berbahasa Arab sebagai bahasa agama, tapi juga menguasai bahasa Inggris dan bahkan bahasa Prancis. Wah, bayangkan saja, diskusi rumah tangga nanti bisa pakai bahasa apa saja, mulai dari gaya khas Madura yang tegas sampai percakapan santai ala Paris kalau lagi mau romantis. Pintar, alim, dan punya wawasan internasional. Pasangan yang sangat lengkap!

Kedua mempelai terlihat betapa serasinya pasangan ini.Ning Inayah tampil anggun dan cantik dengan busana putih bersih beserta kerudung senada, berdampingan dengan Ra Mamak yang tampak gagah dan berwibawa. Suasana akad dan resepsi pun terasa sangat syahdu, penuh doa, dan kental dengan nuansa pesantren yang mendamaikan hati.

Makna Di Balik Pertemuan

Pernikahan Inayah Wahid dan Ra Mamak ini bagai menyatukan dua dunia yang sama-sama besar, namun tetap berpijak pada kesederhanaan. Di satu sisi ada darah dan semangat dari keluarga Gus Dur yang terkenal liberal, inklusif, dan penuh humor. Di sisi lain ada tradisi kuat pesantren Madura yang dikenal teguh, disiplin, dan kental akan nilai-nilai keislaman.

Namun, perbedaan latar justru menjadi bumbu yang indah. Ini membuktikan bahwa cinta dan pernikahan adalah tentang menyatukan visi, bukan memaksakan kesamaan. Gaya pernikahan mereka yang sederhana, jauh dari kesan wah atau pamer, sangat mencerminkan ajaran Gus Dur yang selalu mengajarkan hidup apa adanya dan memanusiakan manusia.

Kesan "romantis" di sini bukan terlihat dari hadiah mahal, tapi dari bagaimana Ra Mamak siap menerima Inayah apa adanya, dan bagaimana Inayah menemukan sosok pelindung yang bisa mengimbangi kecerdasannya. Sebuah pernikahan yang dibangun di atas dasar taqwa, persahabatan, dan tentu saja... selera humor yang baik!

Selamat menempuh hidup baru untuk Ning Inayah Wahid dan Kang Ra Mamak! Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat, berkah, dan kasih sayang di antara kalian berdua.

Semoga rumah tangga kalian nanti selalu dipenuhi tawa canda seperti gaya khas keluarga Wahid, namun tetap kokoh dan tenang seperti ketenangan seorang kiai. Jangan lupa, kalau ada masalah kecil, ingat saja pesan kakeknya: "Sesulit apa pun hidup, kalau bisa ditertawakan, berarti kita menang."

Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Dan yang paling penting: semoga langgeng terus, jangan sampai ada yang baper atau ngambek lama-lama ya! Hehehe. Barakallah untuk kalian berdua!.(*)


Pewarta : Imam Kusnin Ahmad
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :