KANALPojok Features

Harlah ke-80 Muslimat NU Bertema Merawat Tradisi, Menguatkan Kemandirian, dan Meneduhkan Peradaban

Harlah ke-80 Muslimat NU Bertema Merawat Tradisi, Menguatkan Kemandirian, dan Meneduhkan Peradaban
Para muslimat NU merayakan hari lahirnya yang ke-80. (FOTO: Istimewa)

COWASJP.COM – Pada hari Minggu 29 Maret 2026, Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) merayakan Hari Lahir ke-80 dengan tema “Merawat Tradisi, Menguatkan Kemandirian, dan Meneduhkan Peradaban”. 

Bagi sebagian orang, kegiatan  ini mungkin hanya dianggap sebagai acara tahunan organisasi masyarakat. Namun, jika kita mengurai lebih dalam, tema yang diusung bukan sekadar slogan kosong —melainkan panduan hidup yang relevan bagi bangsa Indonesia yang tengah menghadapi badai tantangan global.

Ketiga pilar dalam tema tersebut saling melengkapi dan membentuk fondasi kokoh bagi peran perempuan sebagai agen perubahan. 

Merawat Tradisi bukan tentang menjadi kuno atau terpaku pada masa lalu, melainkan tentang menjaga akar identitas yang membuat kita tetap berdiri tegak di tengah lautan globalisasi yang sering kali menghapuskan keberadaan lokal. 

Muslimat NU sebagai organisasi wanita terbesar di tanah air telah menunjukkan bahwa tradisi bukanlah penghalang kemajuan, melainkan kompas yang menunjukkan arah.

Lihat saja capaian yang telah diperoleh, lebih dari 5.200 peserta telah mengikuti pelatihan seni tradisional di 34 provinsi, 1.200 lokasi “Rumah Tahfidz dan Budaya” telah berdiri, dan ribuan orang berkumpul dalam acara silaturahmi “Keluarga Besar NU”. 

Ini adalah bukti bahwa tradisi yang hidup bukan hanya menjadi milik sebagian orang, tetapi menjadi kekuatan bersama yang memperkokoh tali persaudaraan bangsa. Di saat nilai-nilai kemanusiaan diterlantarkan akibat ketegangan geopolitik dan perang di berbagai belahan dunia. Menjaga tradisi seperti gotong royong, rukun antarumat beragama, dan penghormatan kepada leluhur adalah bentuk perlindungan terbaik terhadap jati diri bangsa yang sedang terkoyak.

Namun, merawat tradisi tidak cukup jika tidak diimbangi dengan kemampuan untuk berdiri sendiri. Inilah makna dari Menguatkan Kemandirian yang menjadi pilar kedua tema ini. 

Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU DR Hj. Khofifah Indar Parawansa tepat ketika mengatakan bahwa kita harus tetap tangguh dan berani irit di tengah ancaman krisis ekonomi dan langkanya energi global. 

Kemandirian bukan hanya tentang kemampuan ekonomi, tetapi juga mencakup aspek sosial dan intelektual.

Capaian Muslimat NU dalam hal ini patut diacungi jempol: 3.800 kelompok usaha mikro yang dibina menghasilkan omset bulanan rata-rata Rp5 juta per kelompok, 2.700 peserta pelatihan keterampilan kerja yang mendapatkan kesempatan kerja atau membuka usaha mandiri, dan total simpanan di Koperasi Desa Merah Putih mencapai Rp25 miliar. 

Di sisi lain, pengembangan sumber daya manusia melalui dukungan terhadap program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang melayani 120.000 orang dan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjangkau 85.000 anak sekolah menunjukkan bahwa kemandirian tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk kemaslahatan bersama.

Ketua PP Muslimat NU Hj. Arifatul Choiri Fauzi benar ketika menyatakan bahwa perempuan adalah faktor penting dalam memperkuat ketahanan keluarga dan masyarakat. 

Dengan jumlah penduduk Indonesia yang didominasi oleh perempuan dan anak, peran mereka dalam pendidikan, kesehatan, dan ekonomi tidak bisa dianggap remeh. 

Organisasi perempuan seperti Muslimat dan Fatayat NU telah membuktikan bahwa kontribusi mereka tidak hanya berada di tingkat akar rumput, tetapi juga mampu memengaruhi kebijakan pembangunan nasional.

Pilar terakhir, Meneduhkan Peradaban, adalah puncak dari perjuangan Muslimat NU selama delapan dekade. Di zaman yang penuh ketegangan global, di mana kebencian dan konflik seringkali lebih mudah menyebar daripada kedamaian, peran perempuan sebagai penyejuk hati dan perekat persatuan menjadi sangat krusial. 

Konsep “meneduhkan peradaban” bukan hanya tentang menciptakan suasana damai di lingkungan kecil, tetapi juga tentang membangun masyarakat yang berbudaya tinggi, penuh kasih sayang, dan menghargai perbedaan.

Capaian dalam bidang ini terlihat jelas: program “Ibu sebagai Pengajar” yang melatih 4.100 orang tua dalam mendidik anak, program “Pemuda Peduli Perdamaian” yang menghimpun 15.000 pemuda untuk mencegah konflik sosial, serta 280 kegiatan sosial bantuan dan 120 acara dialog antarumat beragama yang telah dijalankan sejak awal tahun 2026.

Ini adalah bukti bahwa peradaban yang baik tidak dibangun oleh kekerasan atau kekuasaan. Tetapi oleh kerja sama, empati, dan kesediaan untuk saling membantu.

 Dalam peringatan Harlah ke-80 ini, Muslimat NU juga menunjukkan bahwa mereka tidak terpaku pada masa lalu. Inovasi seperti peluncuran aplikasi “Muslimat Peduli” yang telah diunduh lebih dari 75.000 kali, kerja sama dengan 20 organisasi perempuan dalam dan luar negeri, serta pendirian pusat kajian gender dan pembangunan menunjukkan bahwa tradisi dan inovasi dapat berjalan seiring.

 Harlah ke-80 Muslimat NU bukan hanya perayaan sejarah panjang sebuah organisasi, tetapi juga pengingat bagi kita semua tentang pentingnya menjaga akar identitas sambil terus bergerak maju. 

Seiring dengan menjelang Indonesia Emas 2045, peran perempuan sebagai aktor kunci pembangunan nasional semakin jelas. Muslimat NU telah menunjukkan jalan: dengan tradisi sebagai pelita yang menerangi jalan, kemandirian sebagai sayap yang membawa kita terbang tinggi, dan peradaban sebagai tujuan akhir yang kita cita-citakan.

Semoga semangat istiqomah, tangguh, dan gotong royong yang menjadi ciri khas Muslimat NU dapat menginspirasi seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama membangun Indonesia yang lebih baik, lebih sejahtera, dan tetap memiliki ciri khas yang membedakannya di kancah global. Wallahu A'lam Bisshawab.(*) 


Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :