KANALPojok Features

Jelly Tobing: Drummer Sensasional Yang Menorehkan Jejak Abadi di Musik Indonesia.

Jelly Tobing: Drummer Sensasional Yang Menorehkan Jejak Abadi di Musik Indonesia.
Jelly Tobing bersama putranya Ikmal Tobing sebagai penerus drumer di keluarganya. (FOTO: Istimewa)

COWASJP.COM – Jelly Jusuf Langitan Lumban Tobing, atau lebih dikenal sebagai Jelly Tobing (lahir 20 Oktober 1950), adalah legenda drummer Indonesia yang tak lekang oleh waktu. 

Sebagai mantan pemain dari Arulan, C'Blues, dan Minstrel's, ia menyemarakkan tahun 1970-an dengan membentuk band fenomenal Superkid bersama anak-anak Bandung. 

Tidak hanya dikenal dengan gaya sensasionalnya, ia juga memecahkan rekor dunia dengan bermain drum selama 10 jam nonstop. Bergabung dengan sekitar 30 grup band sepanjang karirnya, berkontribusi dalam mengangkat seni bedug, dan kini merambah dunia tarik suara di usia senjanya. 

Ia adalah ayah dari drummer profesional Ikmal Tobing. Jelly Tobing memulai karir musiknya secara otodidak dan tidak mahir membaca not balok, namun memiliki metode latihan unik dengan mengikat batu bata pada kakinya untuk meningkatkan kekuatan. 

Setelah bermain di grup awal di medan, ia hijrah ke Jakarta dan pada tahun 1976 bergabung dengan Superkid —band yang membuat namanya melambung setelah dipromosikan oleh majalah Aktuil. 

Setelah Superkid bubar, ia bergabung dengan Giant Step, Bharata Band (pada tahun 1984–1990 dan 1994–1999), serta membentuk grup Lipstik bersama Harry Soebardja dan Deddy Dores pada tahun 1980-an. .

Ia juga pernah menjadi pengiring bagi artis besar seperti Nicky Astria dan Betharia Sonata.
 
Pada tahun 1981, ia mengalami kecelakaan di panggung saat tampil di Surabaya setelah terkena sambaran petir. Namun kembali bermain hanya dalam waktu setahun. 

Untuk mengejar sensasi, ia melakukan solo drum selama 10 jam nonstop dua kali: di Ancol (1 Oktober 1988) dan lapangan Persija Menteng (29 Juli 1990), mengiringi sekitar 255–257 lagu dari berbagai genre dan memasuki Guinness Book of Records. 

Ia pernah dicalonkan sebagai pengganti Teddy Sujaya di God Bless, namun urung gabung, bahkan sempat berinisiatif  membentuk grup Speed Fire yang tidak terealisasi. 

Pada tahun 2002, ia menjadi drummer tamu Rhythm Kings dalam acara reuni di Medan.
 
Selain musik, Jelly juga berkontribusi dalam seni budaya dengan menginisiasi parade bedug di Tugu Monas pada masa Wagub DKI Jakarta Basofi Sudirman. Sebagai sosok yang ramah dan penuh ceria, ia menjalin hubungan baik dengan sesama musisi termasuk dengan Raja Dangdut Rhoma Irama dan  kini membawa semangat yang sama ke dunia tarik suara, melihatnya sebagai sarana untuk mendidik masyarakat tentang hak dan kewajiban sebagai warga negara.
 
Jelly Tobing membuktikan bahwa sensasi dan dedikasi dalam berkarya tidak mengenal batasan usia atau bidang. Ia menginovasikan cara bermain drum dengan menggabungkan berbagai genre dan menghidupkan seni bedug sebagai sarana persatuan. 

Bagi generasi muda, ia adalah contoh nyata bahwa passion yang dibakar dengan kerja keras akan menghasilkan prestasi yang membanggakan. 

Ia mengajak kita untuk tidak takut mencoba hal baru, menjaga hubungan baik dengan sesama, dan terus mengejar mimpi tanpa mengenal batasan —karena setiap langkah dalam perjalanan adalah bagian dari cerita yang akan dikenang sejarah.(*)


Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :