KANALPojok Features

Usai Lebaran Ujian Berat bagi Penderita Kanker

Usai Lebaran Ujian Berat bagi Penderita Kanker
Berjejer kue di atas meja, tapi tidak boleh saya sentuh. Kasihan ... (FOTO: Nasaruddin Ismail)

COWASJP.COM – Usai lebaran dijadikan "arena balas dendam" bagi yang berpuasa. Apa yang bisa dimakan, dihabisi. Yang penting halal.

Yang berminyak, yang manis, yang kecut, yang santan, semuanya dilahap. Tanpa mikir akibatnya. "Saya kalau ke rumah saudara-saudara, habis lebaran, apa saja yang disuguhkan dihabisi," cerita Saiful, teman saya yang tinggal di Mojosari.

Karena itu, lebaran merupakan ujian berat buat penderita kanker. Kalau melihat keluarga di rumah makan yang enak, rasanya kepingin juga.

Di atas meja, berjejer berbagai jenia kue. Tapi disentuh pun tidak boleh. Ngiler melihatnya. Tapi, harus bisa menahan diri.

Kadang-kadang, ingin cicipi sedikit. Tapi, begitu tangan menyentuh makanan, suara anak dan isteri, bagaikan ada yang komando. "Jangan Pak," kata mereka serentak.

Ada juga anak yang merasa iba. Tapi apa boleh buat. Suara kalah banyak. Sehingga harus diurungkan.  Itu sebuah perjuangan sekaligus tantangan. Bila ingin sehat.

Dokter menasehati. Terdapat sejumlah makanan pantangan. Alasannya, bisa menyuburkan kembali kanker.

Misalnya, konsumsi daging merah. Daging olahan, seperti bakso, sosis, makan siap saji, sayur mentah, sate dan lainnya. 

Begitu juga dengan minuman yang manis-manis. Atau yang mengandung alkohol. Kopi manis. Teh manis, susu manis, dan lain-lain.

Sejumlah larangan itu pasti sudah dihafal luar kepala oleh penderita kanker. Karena dokter pasti menjelaskan larangan itu.

Tinggal pasien mau mematuhi atau tidak.

Tapi, kadang -kadang dokter mengatakan boleh. Asalkan dibatasi.

Kelonggaran seperti itulah, yang akhirnya membuat terlena. Karena itu, dokter selalu menyarankan. Salah satu cara untuk melawannya adalah dukungan dari keluarga.

Biasa, penderita kanker, juga suka bandel dilarang anak dan isteri di rumah, malah makan di luar rumah. Padahal, masakan di luar itu, tidak terukur. Yang penting enak.

Bumbu masak banyak pun, tidak ada yang melarang. Gula yang banyak pun tidak apa-apa. Yang penting enak di lidah. Yang penting banyak pembeli.

Padahal, itu salah satu larangan buat orang yang mengalami kanker.

Salah satu teman senam saya bercerita. Kalau dia sudah berani makan sate. Sudah berani makan gule. Toh tidak merasakan apa-apa.

Saya hanya bisa tersenyum, dengar kata-kata dia. Habis makan, memang tidak merasakan apa-apa. Bahkan saat makan terasa enak sekali.

Tapi ingat. Banyak penderita kanker setelah dicek di laboraturium sudah merajalela ke mana - mana. Dari sembuh, ternyata sudah studium tinggi.

Inilah yang harus dijaga. Karena tidak ada tanda  - tanda yang bisa langsung dirasakan.

Apakah kalau menghindari makanan dan minuman pantangan itu dijamin sehat?

Belum tentu juga. Tapi yang namanya ikhtiar, melalui perjuangan. Insya Allah akan membuahkan hasil. 

Saya, kalau berhadapan dengan makanan yang enak, terngiang di telinga nasehat dr Tommy Lesmana Sp B, Subsp. BD(K) tempat saya konsultasi.

"Kalau boleh saya ngomong jujur. Masa kritis kanker itu, dua tahun."

Kata-kata itu, tak akan saya lupakan. Sebagai peringatan, agar saya tahu diri. (*)


Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :