KANALPojok Features

146,9 Juta Warga Mudik di Lebaran 2026, Jangan Sembarang Buang Sampah

146,9 Juta Warga Mudik di Lebaran 2026, Jangan Sembarang Buang Sampah
Ilustrasi - persiapan pemerintah untuk Arus Mudik Lebaran 2026 (Istimewa - jatengzone.com)

COWASJP.COMMUDIK LEBARAN 2026 diperkirakan akan dilakukan oleh sekitar 143,91 juta orang atau 50,60 persen penduduk Indonesia. 

Fenomena ini tidak hanya menjadi tradisi budaya dan sosial ekonomi yang menggerakkan perekonomian daerah, tetapi juga menuntut kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan. Mengelola sampah dengan baik dan tidak membuangnya sembarangan.

Imbauan Peduli Sampah Selama Mudik

 Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (LPLH-SDA) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Suhardin, mengimbau seluruh pemudik untuk lebih memperhatikan pengelolaan sampah selama perjalanan. Imbauan ini disampaikan sebagai upaya menjaga kebersihan lingkungan, mengingat meningkatnya mobilitas masyarakat pada musim mudik.

 Menurut Suhardin, sampah yang dihasilkan selama perjalanan terdiri dari jenis organik dan anorganik. Keduanya perlu dikelola dengan tepat agar tidak menimbulkan dampak negatif. 

Sampah organik sebaiknya diolah jika memungkinkan, sedangkan sampah anorganik harus dikelola bijak agar tidak langsung berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

 Persoalan sampah saat ini telah menjadi masalah bersama yang membutuhkan kontribusi dari seluruh lapisan masyarakat. Langkah sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian lingkungan. 

Suhardin menekankan perlunya meminimalkan volume sampah yang dibawa ke TPA dan mengubah perilaku mengelola sampah yang dimulai dari diri sendiri. Termasuk dalam aktivitas sehari-hari dan perjalanan mudik. 

Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, diharapkan volume sampah selama musim mudik dapat ditekan sehingga tidak menambah beban lingkungan.

 Mudik Sebagai Penggerak Ekonomi Regional

 Sebelumnya, Sekretaris Jenderal MUI Buya Amirsyah Tambunan mengaku optimistis bahwa tradisi mudik Lebaran 2026 dapat menggerakkan roda perekonomian secara signifikan di daerah. Dengan jumlah pemudik yang sangat besar, kebutuhan konsumtif masyarakat melonjak dan aktivitas ekonomi menggeliat dari kota besar hingga desa-desa di pelosok negeri.

 Menurut Buya Amirsyah, mudik tidak hanya sekadar tradisi budaya, tetapi juga tradisi sosial ekonomi yang membuat moda transportasi mengalami peningkatan signifikan. Aktivitas ini menciptakan perputaran uang dalam jumlah besar yang dapat memicu aktivitas perdagangan, menggerakkan sektor riil, baik untuk pariwisata maupun Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

 Mudik juga menciptakan efek domino yang luas, meskipun sayangnya aktivitas ekonomi yang muncul hanya bersifat sementara dan tidak berkelanjutan. 

Data menunjukkan bahwa pada mudik 2025 terdapat 146,48 juta orang atau sekitar 52% dari total penduduk Indonesia, sedangkan pada 2024 jumlah pemudik lebih besar mencapai 193,6 juta orang, yang menunjukkan besarnya mobilitas masyarakat saat Lebaran.

 Lebih lanjut, Buya Amirsyah menjelaskan bahwa mudik menjadi momen transformasi uang dari daerah tujuan pekerjaan ke daerah asal pekerja urban. 

Sekitar 60 persen perputaran uang mudik terjadi di Pulau Jawa karena mayoritas pemudik berasal dari wilayah tersebut. Dari perspektif ekonomi regional, fenomena ini dapat dipandang sebagai transformasi ekonomi dari pusat ke daerah.

Motivasi dan Inovasi

Musim mudik adalah momen yang penuh makna bagi bangsa Indonesia, baik sebagai wujud rasa cinta terhadap keluarga maupun sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Mari kita jadikan momentum ini sebagai kesempatan untuk meningkatkan kesadaran kita dalam menjaga lingkungan – mulai dari membawa tempat sampah pribadi selama perjalanan, memilah sampah sesuai jenis, hingga mendukung program pengelolaan sampah di daerah tujuan mudik.

Untuk mengubah dampak ekonomi mudik menjadi lebih berkelanjutan, kita bisa berinovasi dengan cara mengembangkan produk dan jasa UMKM yang dapat terus diperdagangkan bahkan setelah musim mudik berakhir. Serta mempromosikan pariwisata daerah asal dengan memanfaatkan kunjungan pemudik sebagai calon wisatawan tetap. 

Dengan demikian, mudik tidak hanya memberikan kebahagiaan bersama dan dorongan ekonomi sementara, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan dan kebersihan lingkungan yang lestari bagi negeri kita.Wallahu A'lam Bisshawab (*) 


Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :