KANALPojok Features

Tidak Boleh Dekat Balita, Ibu Hamil dan Ibu Menyusui Selama 24 Jam

Tidak Boleh Dekat Balita, Ibu Hamil dan Ibu Menyusui Selama 24 Jam
Mengenakan baju khusus pasien dan celana tidak menggunakan resleting. (FOTO: Dok. Nasaruddin Ismail)

COWASJP.COM – Setelah menjalani PAT (Positron Emission Tomography) Scan, Selasa kemarin (10/3/2026), saya tidak boleh dekat balita selama 24 jam. Pun ibu yang menyusui maupun ibu hamil.

Sebab, obat radiofarmaka setengah CC yang disuntik ke tubuh saya, mengandung radiasi. Yang berbahaya.

"Karena obat yang disuntikkan ke tubuh bapak mengandung radiasi, bapak tidak boleh dekat dengan bayi, balita, ibu hamil atau yang sedang menyusui," kata operator yang suntik di punggung tangan saya.

BACA JUGA: 10 Maret Saya Periksa PET Scan dan Ditangani Dokter Spesialis Nuklir​

"Berapa lama. Di rumah ada cucu masih bayi," tanya saya.

"Selama 24 jam Pak," sahut perawat itu singkat.

"Waduh ... lama juga," kataku.

"Bapak harus minum air putih yang banyak untuk menggelontor," lanjutnya lagi.

Ini sedang menjalani ibadah puasa. Tidak boleh makan dan minum. "Setelah buka puasa, pak," katanya.

Yang menjadi problem larangan itu, karena di rumah ada cucu. Yang baru berusia 10 bulan. Dan ibunya yang masih menyusui.

Saya terpaksa terisolir dari mereka. Cucuku tak henti-henti menangis. Minta digendong seperti biasa. Karena terbiasa dengan saya di rumah.

Tak hanya itu. Di Masjid Al Wahyu, tempat saya shalat di Rungkut Menanggal Harapan, banyak anak-anak balita yang ikut orang tuanya shalat tarwih. Saya pun harus menjauhi mereka.

Meski datang ke masjid terlambat. Usai adzan, namun berusaha mencari celah di shaf paling depan. 

Atau kedua, yang tidak ada anak-anak kecil. Yang biasa berlarian di belakang, saat orang sedang shalat Isya dan tarawih. Karena khawatir, radiasi yang ada di tubuh, terpapar kepada mereka.

Cara menyuntikkan obat ini, beda dengan injeksi biasa. Sama dengan suntikan kemo. Yang beda hanya jarumnya, lebih kecil.

Setelah dipasang jarum, lalu dimasukkan cairan infus sebagai pendahulu.

Kalau kemo cairan infus digantung, sebagai obat pendahulunya, tapi untuk PET Scan, spet cairannya digantung di punggung tangan.

Anggaplah cairan infus ini, sebagai pembuka jalan. Agar obat yang mengandung radiasi itu, bisa mengalir ke seluruh tubuh.

Setengah jam kemudian, baru obat radiofarmaka yang berfungsi untuk pencitraan PET Scan ini, disuntik. Lewat jarum yang dipasang di punggung tangan itu 

Sambil rileks, disuruh menunggu obat ini mengalir ke seluruh tubuh. Baru melaksanakan Positron Emission Tomography (PET) Scan itu dilaksanakan.

Dengan mengenakan baju khusus pasien dan celana yang tidak menggunakan resleting dari besi atau tembaga, berbaring di atas tempat tidur selebar tubuh itu.

Kaki, tubuh, dan tangan diikat. Agar tidak bergerak. Karena kalau bergerak bisa mengganggu hasil gambar rekamannya.

Tapi lucunya, ternyata celana training yang saya kenakan, kantongnya ada resleting besi.

Ketahuan setelah scan itu dimulai. Tubuh saya sudah berada di dalam tabung.

Akhirnya terpaksa mesin dihentikan. "Pak, di kantong calananya resleting besi," kata Agista, gadis cilik berjilbab, yang bertugas sebagai operator. Yang dibantu beberapa mahasiswa.

Karena tubuh sudah masuk ke dalam tabung sempit itu, akhirnya celana ditarik dari ujung kaki.  Sampai lutut.

Untung mengenakan celana dalam. Pasien lain saya lihat, rata-rata mengenakan sarung. Mungkin juga tidak mengenakan celana dalam ... hehehe (Bersambung)


Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :