KANALPojok Features

Jenderal Purn Try Sutrisno (2)

Filosofi Parenting Try Sutrisno Menumbuhkan Generasi Berkualitas, Tidak Manja, dan Tangguh

Filosofi Parenting Try Sutrisno Menumbuhkan Generasi Berkualitas, Tidak Manja, dan Tangguh
Pak Try Sutrisno bersama keluarga. Beliau tidak pernah memanjakan putra-putrinya. (FOTO: Istimewa)

COWASJP.COM – SETELAH membawa bulu tangkis Indonesia ke puncak dunia, sosok Jenderal TNI PurnTry Sutrisno juga menunjukkan kehebatannya dalam mendidik generasi penerus. 

Sebagai mantan Panglima ABRI dan Wakil Presiden RI ke-6 periode 1993-1998, nama beliau sangat dikenal bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Terutama Generasi X dan Y. 

Di balik prestasi gemilangnya di bidang militer dan olahraga, tersimpan cerita inspiratif tentang bagaimana dia mendidik anak dan cucunya hingga memiliki karir gemilang di lingkungan TNI-Polri. 

Pada ulang tahunnya yang ke-90 pada Sabtu (15/11/2025), buku berjudul 'Filosofi Parenting: Rahasia Pola Asuh Jenderal Agar Anak dan Orang Tua Bahagia Bersama Try Sutrisno Wakil Presiden ke-6 RI' diluncurkan. Buku itu ditulis oleh mantan Menpora Adhyaksa Dault. 

BACA  JUGAJenderal yang Bawa Bulu Tangkis Indonesia ke Puncak Dunia

Isi buku mengungkap rahasia pola asuh yang telah melahirkan generasi penerus berkualitas.

Anak dan Cucu Berkarir Moncer di TNI-Polri

 Try Sutrisno dan istri Tuti Sutiawati dikaruniai tujuh anak, yaitu Nora Tristyana, Taufik Dwi Cahyono, Firman Santyabudi, Nori Chandrawati, Isfan Fajar Satrio, Kunto Arief Wibowo, dan Natalia Indrasari. Dua di antaranya memilih mengikuti jejak sang ayah sebagai abdi negara dengan mencapai pangkat jenderal bintang dua.

 Mayjen TNI Kunto Arief Wibowo (lahir 15 Maret 1971, Malang) adalah perwira TNI AD lulusan Akademi Militer tahun 1992. 

Saat ini menjabat sebagai Wakil Komandan Kodiklatad sejak Juli 2023. Sebelumnya pernah menjabat sebagai Panglima Kodam III/Siliwangi dan merangkap Dankogartap II/Bandung. Ia juga pernah mengemban berbagai jabatan strategis seperti Danyonif 500/Raider, Dansatdik Sussarcab Pusdikif Pussenif, dan Danrem 044/Garuda Dempo. 

Kunto juga kakak ipar Jenderal TNI (Purn.) Ryamizard Ryacudu.

 Irjen Pol Firman Santyabudi (lahir 17 November 1965) adalah lulusan Akademi Kepolisian tahun 1988. Pernah menjabat sebagai Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri hingga memasuki masa pensiun. 

Sebelumnya, ia telah menduduki berbagai posisi penting seperti Wadirlantas Polda Metro Jaya, Dirlantas Polda Sumatera Selatan, Kapolres Metro Jakarta Selatan, dan Kapolda Jambi.

 Tak hanya anak-anak, cucu-cucu Try juga mengikuti jejaknya di militer. Lettu Dwinanda Patria Noryanzha (putra Ryamizard Ryacudu dan Nora Tristyana) adalah perwira aktif TNI AD. Sementara Letda Kinan FI (putra Mayjen Kunto Arief Wibowo) berdinas di Brigif Para Raider 18/Trisula Jabung Malang.

 Filosofi Parenting yang Tegas namun Penuh Kasih Sayang

 Parenting adalah proses pengasuhan, pendidikan, dan pembimbingan anak oleh orang tua secara menyeluruh, mencakup aspek fisik, emosional, sosial, dan intelektual sejak lahir hingga dewasa. 

Dalam sambutannya pada acara peluncuran buku, Try Sutrisno mengungkapkan prinsip pola asuh yang diterapkannya kepada anak-anak. Ia tidak pernah memanjakan anaknya, karena meyakini bahwa memanjakan sama saja dengan membunuh masa depan mereka. 

"Saya selalu berkata kepada anak-anak saya, memanjakan anak sama dengan membunuh masa depannya, dan saya juga berkata, jaga nama baik keluarga, dan yang lebih penting lagi, jaga nama baik dirimu sendiri," ujarnya.

 Pola asuh yang diterapkan juga menekankan pada hidup sederhana. Try tidak pernah memanfaatkan fasilitas yang diterimanya untuk kebaikan pribadi atau anak-anak. "Kami ingin anak-anak lebih kuat dengan tidak memberikan fasilitas dan lebih teguh," jelasnya. 

Selain itu, ia juga menanamkan nilai-nilai kejujuran, keberanian, rasa syukur, dan sikap tidak menyakiti orang kepada anak-anaknya. Diharapkan akan diteruskan kepada cucu-cucu hingga menjadi sosok yang berguna bagi masyarakat.

Menurut Adhyaksa Dault, penulis buku, daya tarik utama buku ini terletak pada perpaduan sikap tegas sebagai prajurit dan kelembutan sebagai ayah dalam diri Try Sutrisno. Ia mengungkapkan cerita unik mengenai pola asuh sederhana yang diterapkan, seperti kebiasaan "sepatu lungsuran" di mana sepatu yang sudah tidak bisa dipakai anak yang lebih tua akan diteruskan kepada adiknya hingga benar-benar lusuh baru boleh membeli yang baru.

 Cerita lain yang menjadi pembelajaran adalah ketika Try Sutrisno yang baru saja menyelesaikan masa jabatannya sebagai Wakil Presiden, turut mengangkat keranda jenazah asisten rumah tangganya yang bernama Bi Imih. 

Bahkan, ketika salah satu anaknya pernah mengeluh kepada pembantu rumah tangga, Try langsung menyuruhnya meminta maaf dengan mencium tangan sang pembantu.

 Acara Peluncuran Buku yang Meriah

 Acara syukuran ulang tahun dan peluncuran buku di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, dihadiri oleh berbagai tokoh penting negara. Antara lain Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-11 Boediono, serta istri-istri mantan kepala negara, pejabat pemerintah, dan para purnawirawan TNI-Polri.

 Inovasi dan Motivasi

 Inovasi dari buku ini terletak pada pendekatan yang berbeda dalam membahas dunia parenting, di mana seorang jenderal dan mantan wakil negara menjadi sumber inspirasi, bukan hanya pakar pendidikan atau psikolog. Nilai-nilai yang ditanamkan Try Sutrisno bukan hanya relevan untuk keluarga militer, tetapi juga dapat dijadikan contoh bagi seluruh masyarakat Indonesia.

 Pesan motivasi yang dapat diambil adalah bahwa kesuksesan karir tidak hanya didapatkan melalui keahlian teknis semata, tetapi juga melalui pembentukan karakter yang kuat, nilai-nilai moral yang kokoh, dan sikap rendah hati. Pola asuh yang tegas namun penuh kasih sayang, serta penghargaan terhadap semua lapisan masyarakat, menjadi pondasi penting dalam menciptakan generasi penerus. Tidak hanya sukses secara profesional, tetapi juga memiliki integritas yang tinggi.

Kehidupan Try Sutrisno membuktikan bahwa kesuksesan tidak hanya diukur dari prestasi pribadi semata, tetapi juga dari kontribusi yang diberikan kepada bangsa dan kemampuan untuk mencetak generasi penerus yang berkualitas. 

Baik ketika memimpin PBSI maupun mendidik keluarga, beliau selalu menerapkan prinsip yang sama: kerja keras, disiplin, kejujuran, dan kesederhanaan. 

Warisan yang beliau tinggalkan —baik dalam bidang olahraga maupun dalam pola asuh keluarga—akan terus menjadi inspirasi bagi seluruh rakyat Indonesia. Untuk membangun masa depan yang lebih baik, baik bagi diri sendiri maupun bagi bangsa.(Bersambung)


Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :