KANALPojok Features

Jenderal Purn Try Sutrisno (1)

Jenderal yang Bawa Bulu Tangkis Indonesia ke Puncak Dunia

Jenderal yang Bawa Bulu Tangkis Indonesia ke Puncak Dunia
Pak Try Sutrisno, Ketua Umum PBSI, menyalami para atlet bulutangkis Indonesia. (FOTO: Istimewa)

COWASJP.COM – Jenderal Purn Try Sutrisno wafat pada Senin 2 Maret 2026 di RSUP Gatot Soebroto Jakarta. Almarhum tidak hanya dikenang sebagai tokoh militer dan negara ternama Indonesia. Tetapi juga sebagai sosok visioner yang membawa bulu tangkis tanah air memasuki era kejayaan tak terlupakan. 

Menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) selama dua periode berturut-turut (1985–1989 dan 1989–1993), beliau menjadi sosok pertama dari kalangan militer yang memimpin organisasi ini. Awalnya banyak diragukan, namun justru menjadi titik balik bagi perkembangan bulu tangkis Indonesia di kancah internasional. 

Melalui kebijakan tegas dan fokus pada pengembangan atlet muda serta struktur organisasi, Try Sutrisno berhasil mengantarkan merpati putih terbang tinggi, sekaligus mempertahankan reputasi keberhasilan pebulutangkis Indonesia yang telah diraih oleh generasi sebelumnya, terutama legenda seperti Rudi Hartono. 

 Meskipun awalnya banyak pihak meragukan kapasitas seorang perwira militer dalam mengelola olahraga teknis seperti bulu tangkis, Try Sutrisno dengan cepat membuktikan bahwa kepemimpinan yang komprehensif mampu membawa perubahan besar. 

Beliau tidak hanya berfokus pada pencapaian prestasi baru, tetapi juga dengan sungguh-sungguh mempertahankan reputasi keberhasilan pebulutangkis Indonesia yang telah dibangun oleh pelopor-pelopor sebelumnya.

 Sebelum era Try Sutrisno, Indonesia telah mencatat prestasi gemilang melalui legenda bulu tangkis Rudi Hartono, yang menjuarai All England sebanyak 8 kali pada tahun 1968, 1969, 1970, 1971, 1972, 1973, 1974, dan 1976 —dengan rekor 7 gelar berturut-turut. Rudi juga meraih gelar juara Kejuaraan Dunia pada tahun 1980 dan menjadi bagian dari tim Indonesia yang menjuarai Piala Thomas pada tahun 1970, 1973, 1976, dan 1979. 

Selama era kejayaan Rudi Hartono pada tahun 60-an hingga 70-an, PBSI dipimpin oleh tokoh seperti Suharso Suhandinata dan A.R. Ramly, yang telah menciptakan dasar kuat bagi perkembangan bulu tangkis nasional.

 Try Sutrisno menyadari bahwa warisan keberhasilan tersebut harus dijaga dan dikembangkan agar Indonesia tetap menjadi kekuatan bulu tangkis dunia. Beliau melihat potensi besar pada generasi muda atlet yang belum tereksplorasi maksimal. Sehingga salah satu langkah awal yang ditempuh adalah memperkuat sistem pembinaan dari tingkat dasar hingga elit. 

Melalui kerja sama dengan berbagai daerah dan pelatnas nasional, beliau mendorong pembentukan akademi bulu tangkis di berbagai wilayah serta meningkatkan kualitas pelatih dengan mengirim mereka mengikuti pelatihan internasional —hasilnya adalah bibit-bibit atlet berbakat yang kemudian menjadi andalan negara sekaligus penerus warisan keberhasilan sebelumnya.

 Salah satu kontribusi paling berharga dari kepemimpinannya adalah lahirnya Piala Sudirman, kejuaraan tim campuran bulu tangkis dunia yang pertama kali digelar di Jakarta tahun 1989. Inisiatif ini bukan hanya penghormatan kepada pelopor bulu tangkis Indonesia, Sudirman, tetapi juga membuka peluang baru bagi atlet Indonesia untuk menunjukkan kemampuan di berbagai nomor. 

Pada ajang pertama tersebut, Indonesia berhasil meraih gelar juara dunia, sementara pada tahun 1991 di Kopenhagen, Denmark, tim nasional harus puas menjadi runner-up setelah dikalahkan China. Kemenangan ini tidak hanya menambah prestasi baru, tetapi juga memastikan bahwa nama Indonesia tetap berada di puncak peringkat bulu tangkis dunia seperti yang telah diraih pada era Rudi Hartono dan generasi sebelumnya.

 Meskipun informasi sebelumnya menyebutkan Indonesia meraih Piala Thomas pada 1990 dan 1992 tidak sesuai catatan resmi, masa kepemimpinannya tetap menjadi tonggak penting dalam persiapan tim putra untuk meraih gelar juara dunia tahun 1994. 

Pada periode tersebut, atlet seperti Alan Budikusuma, Ardy Wiranata, dan Eddy Hartono mulai menunjukkan performa luar biasa yang membuat nama Indonesia dikenal dunia. Demikian pula dengan kejuaraan dunia individu BWF —meskipun gelar juara baru diraih tahun 1993 melalui Joko Suprianto dan Susi Susanti. Setelah masa kepemimpinannya berakhir —persiapan dan pembinaan awal mereka dilakukan selama era Try Sutrisno, dengan tujuan utama untuk mempertahankan dominasi Indonesia yang telah terbentuk selama beberapa dekade.

Pada ajang All England, yang dikenal sebagai salah satu kejuaraan paling bergengsi setelah Olimpiade dan Kejuaraan Dunia, wakil Indonesia menunjukkan konsistensi luar biasa selama masa kepemimpinannya. Susi Susanti menjadi atlet paling bersinar dengan meraih gelar juara tunggal putri pada tahun 1990, 1991, dan 1993. Selain itu, pasangan ganda putra Eddy Hartono/Rudy Gunawan juga berhasil mengangkat nama Indonesia dengan menjadi juara tahun 1991. 

Prestasi ini tidak hanya membuktikan kemampuan atlet Indonesia, tetapi juga menunjukkan bahwa sistem pembinaan yang diterapkan memberikan hasil optimal dan mampu melanjutkan tradisi keberhasilan yang dimulai oleh legenda seperti Rudi Hartono.

 Puncak kejayaan bulu tangkis Indonesia selama era Try Sutrisno datang pada Olimpiade Barcelona 1992, ketika cabang olahraga ini dipertandingkan untuk pertama kalinya. Indonesia meraih prestasi gemilang dengan membawa pulang 2 medali emas melalui Susi Susanti (tunggal putri) dan Alan Budikusuma (tunggal putra), 2 medali perak melalui Ardy Wiranata (tunggal putra) serta Eddy Hartono/Rudy Gunawan (ganda putra), dan 1 medali perunggu melalui Hermawan Susanto (tunggal putra). 

Medali emas yang diraih oleh Susi dan Alan menjadi yang pertama dalam sejarah Olimpiade Indonesia, sebuah pencapaian yang membuat bangga seluruh rakyat dan mengukuhkan posisi Indonesia sebagai kekuatan bulu tangkis dunia, melanjutkan warisan kejayaan yang telah dimulai oleh generasi sebelumnya.

 Selain pengembangan atlet, Try Sutrisno juga fokus pada memperbaiki struktur organisasi PBSI. Beliau menyusun peraturan yang lebih jelas dan profesional, meningkatkan kerja sama dengan Federasi Bulu Tangkis Internasional (BWF), serta mendorong dukungan dari pemerintah dan pihak swasta untuk pengembangan olahraga ini. 

Beliau juga selalu mengakui kontribusi para tokoh PBSI sebelumnya seperti Suharso Suhandinata dan A.R. Ramly yang telah membangun fondasi yang kuat bagi organisasi ini. Hal ini membuat PBSI semakin terstruktur dan mampu bersaing dengan federasi negara lain di tingkat internasional.

 Perjalanan kepemimpinan Try Sutrisno di PBSI selama delapan tahun penuh dengan kontribusi berharga yang membentuk wajah bulu tangkis Indonesia saat ini. 

Meskipun awalnya diragukan, beliau berhasil membuktikan bahwa kepemimpinan yang tegas, visioner, dan fokus pada pengembangan sumber daya manusia mampu membawa perubahan besar. Prestasi yang diraih —mulai dari kemenangan di Piala Sudirman, konsistensi di All England, hingga medali emas pertama di Olimpiade— menjadi bukti nyata bahwa beliau adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah bulu tangkis Indonesia. 

Lebih dari itu, beliau berhasil mempertahankan dan melanjutkan warisan keberhasilan yang telah diraih oleh legenda seperti Rudi Hartono dan para pemimpin PBSI sebelumnya. 

Kepergiannya pada awal Maret 2026 meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh komunitas bulu tangkis tanah air. Namun warisan yang beliau tinggalkan akan terus menginspirasi generasi mendatang untuk terus mengangkat nama Indonesia di kancah dunia. (Bersambung)


Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :