COWASJP.COM – Alhamdulillah sudah sepertiga perjalanan umat muslim menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan ini. Ada yang sudah berpuasa selama 13 hari dan juga 12 hari. Kalau kami di Portugal mulai puasa pada tanggal 19 Februari 2026. Selama 4x sudah berpuasa di Portugal, kami tidak pernah melihat Ramadhan Vibes yang menghiasi tempat publik.
Namun tahun ini kami merasakan suasana Ramadhan yang berbeda berkat trip singkat kami ke Cape Town – South Africa. Kok bisa???
Apa yang terlintas di pikiranmu saat mendengarkan kata Afrika pertama kali? Benua yang jauh, keberagaman budaya, alam liar, konflik kemiskinan, ataukah tantangan akses pendidikan? Dari benua Afrika beralih ke Negara Afrika Selatan (Afsel).
BACA JUGA: Di Portugal Tidak Ada Daerah yang Didedikasikan sebagai China Town​
Karena masih ada kata Afrika maka espektasi pertama tidak jauh dari itu. Namun seiring berkembangnya jaman, maka Afsel dikenal dengan Nelson Mandela, negara yang maju, tempat FIFA World Cup, olahraga Rugby, dan pemisahan ras antara kulit putih dan kulit hitam. Manakah yang sering kamu dengar?
Cape Town adalah salah satu kota di Afrika Selatan. Selama dua dekade ke belakang Cape Town menjadi jujukan para pelancong dari berbagai benua. Pada tahun 1990an kebanyakan turis masih berasal dari Amerika dan Eropa. Namun di tahun 2000an sudah semakin lengkap turis dari Asia dan Australia juga mengunjungi Cape Town.
Dulunya (1652) kota Cape Town ini menjadi tempat strategis pusat logistik kapal ke Asia yang didirikan oleh bangsa Belanda. Lama kelamaan orang Belanda menetap di sini, menjadi petani dan keturunannya dikenal sebagai Afrikaner.
DoubleZ sudah tak sabar ingin naik pesawat
Kemudian Inggris datang pada abad ke-19 untuk mengambil alih Cape (sekarang Cape Town). Sehingga lebih banyak orang Inggris bermigrasi ke Afrika Selatan. Di sinilah awal mula konflik besar antara Inggris dan Belanda dalam konflik perebutan tanah. Selama ratusan tahun penduduk asli Afrika Selatan berjuang untuk mempertahankan wilayah mereka. Namun karena senjata mereka masih tradisional sedangkan senjata militer Eropa lebih canggih, maka hasilnya Belanda dan Inggris selalu menang. Belanda dan Inggris memperluas wilayah mereka dari masa ke masa.
BACA JUGA: Portugal Sedang Dihantam Badai Ingrid, Ombak Laut Bisa Setinggi 15 Meter
Sejarah terjadi cukup pelik di Afrika Selatan ratusan tahun silam. Hingga akhirnya kaum minoritas kulit putih bisa menduduki posisi ekonomi dan politik tertinggi untuk menguatkan ras nya dan menindas kaum kulit hitam. Setelah masa apartheid (sistem pemisahan rasa secara legal) yang berakhir pada tahun 1994, mereka semua hidup berdampingan.
Namun hingga sekarang pun masih jelas perbedaan ketimpangan ekonomi mereka. Meskipun sekarang generasi muda sudah tidak memikirkan tentang ras lagi, namun masih ada generasi tua yang memiliki trauma sejarah sebelum masa apartheid berakhir.
Gebrakan penghapusan masa apartheid ini dimulai pada tahun 1994. Untuk pertama kalinya diadakan pemilu secara demokratis yang melibatkan semua ras. Kemudian terpilih-lah Nelson Mandela menjadi Presiden kulit hitam pertama kali. Akhirnya masa apartheid (berlangsung hampir 46 tahun) berakhir berkat perjuangan panjang rakyat Afrika Selatan.
Di tahun 2025, Cape Town dinobatkan sebagai salah satu kota terbaik di dunia oleh Time Out Annual Global Survey. Berdasarkan survey lebih dari 18.500 responden, Kota Cape Town meraih skor luar biasa di 44 kriteria, salah satunya dengan 97% warga lokal merasa bahagia tinggal di sini dan 95% memuji kelezatan makanan serta restoran yang menakjubkan.
Makan malam dulu di pesawat
Tidak heran jika Cape Town dianggap sebagai permata dunia yang memikat hati setiap pengunjungnya. 5 kota yang terbaik menurut survey antara lain Cape Town, Bangkok, New York, Melbourne and London.
Tidak pernah ada di benak kami sebelumnya untuk merencanakan trip ke Cape Town – South Africa. Kami hanya pernah mendengar kota ini sesekali dan kepo keindahannya melalui Instagram dan You Tube. Setelah tiba di sana kami paham mengapa Cape Town menjadi salah satu kota terbaik di dunia.
Table Mountain, Cape of Good Hope, Camps Bay, dan Cliffon Beach menjadi beberapa destinasi ikonic turis. Coba tebak mana saja yang kami kunjungi kemarin?
Perjalanan dari Portugal ke Afsel kalau dari peta terlihat dekat. Portugal sudah berada di Eropa paling selatan, sedangkan Afsel juga di paling selatan. Namun nyatanya dibutuhkan penerbangan selama 1 hari menuju ke sana lhoo.
Selasa (10/02) kami berangkat dari Humberto Delgado Airport – Lisboa menuju Cape Town International Airport. Penerbangan kami dijadwalkan pukul 16.00 WET (Western European Time), dengan rute penerbangan Lisbon – Istanbul – Cape Town. Sekitar pukul 11.30 WET kami sudah tiba di bandara, sengaja memilih makan siang di bandara saja karena perjalanan dari apartemen ke bandara cukup padat.
Cape Town - salah satu kota tercantik di dunia
Pada pukul 13.00 WET gate check in untuk drop baggage Turkish Airlines sudah dibuka. Kami berpergian cukup membawa 2 koper besar dan 1 koper kecil yang dibawa ke cabin pesawat. Trauma akan proses imigrasi yang panjang saat mudik ke Indonesia summer kemarin membuat kami lebih siap di perjalanan kali ini. Sebelum proses antri imigrasi panjang sekitar 1,5 jam, DoubleZ sudah dalam keadaan kenyang dan sudah buang air kecil ke toilet. Langkah kaki melaju dengan kecepatan sedang, tidak menoleh kanan kiri di duty free shop. Kami berempat fokus menuju pintu imigrasi secepat mungkin.
Daaan kami sungguh tercengang, antrian imigrasi kosong melompong. Kalau dulu kami melihat barisan panjang lautan manusia, kini kami cukup berjalan santai menuju pintu control paspor. Bahkan proses menunggu tidak sampai 5 menit. Jujur momen ini buat kami supeer happy, bikin mood traveling naik signifikan, haha. Dan kami masih punya waktu 2,5 jam hingga menunggu jadwal flight, airport lounge menjadi tempat transit kami sementara.
Siap boarding menuju Cape Town
Papan pengumuman telah menunjukkan waktu untuk boarding, kami segera jalan ke gate dan bersiap terbang selama 5 jam menuju Istanbul - Turki. Sedikit berbeda saat mudik ke Indo (Juli 2025), kali ini Zygmund sudah lebih siap menikmati momen bermain dan menonton film di monitor pesawat serta menghitung berapa kali makanan yang akan ditawarkan ke dia.
Belum lagi nanti DoubleZ akan menerima mainan kecil dari Turkish Airlines. Alhamdulillah anak-anak bahagia dan tidak rewel sama sekali.
Tiba di Istanbul langsung disambut dengan banyaknya tulisan Ramadhan Mubarak. Sungguh merasa spesial karena di Lisbon tidak melihat tulisan kecil seperti ini, kecuali kalau itu ornament di dalam masjid atau sekolah muslim ya.
Tiba di Istanbul pada pukul 24.00 (TRT) atau 21.00 WET. Kami hanya punya waktu transit selama 2 jam saja. Berhubung bandara Istanbul itu besaaaar sekali, kami harus bergegas mencari gate selanjutnya.
Finally proses transit berjalan lancar. Hi Cape Town, we’re arriving in 20 hours. See you soon, South Africa! Ikuti lanjutan petualangan “DoubleZ goes to South Africa”. OPP (Bersambung).