KANALPojok Features

Jalur Lintas Selatan di Tulungagung (4)

Kecamatan Pucanglaban Kawasan Ekowisata

Kecamatan Pucanglaban Kawasan Ekowisata
JLS (Jalur Lintas Selatan) Kecamatan Pucanglaban sepanjang sekitar 16 km. (FOTO: Istimewa)

COWASJP.COM – Sebagai wilayah ujung JLS yang berbatasan dengan Kabupaten Blitar, Kecamatan Pucanglaban menawarkan keunikan tersendiri dengan perpaduan antara keindahan alam pantai yang memesona dan pemandangan perbukitan yang hijau dan sejuk. 

JLS membuka peluang besar bagi pengembangan ekowisata dan dunia usaha berbasis alam. Tidak hanya menarik wisatawan dari berbagai daerah, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan. Juga memberikan manfaat ekonomi yang merata bagi masyarakat lokal.

 Ruas JLS di Kecamatan Pucanglaban memiliki panjang sekitar 16 km. Merupakan bagian dari pembangunan yang didanai dari Islamic Development Bank (IsDB) senilai Rp 330 miliar yang dialokasikan pada Juni 2023. Ruas ini telah beroperasi dengan kondisi optimal hingga awal tahun 2026. 

Perhatian khusus diberikan pada keamanan lalu lintas di 3 kawasan perbukitan yang memiliki lereng curam seperti kawasan "Lok Songo". 

Sesuai dengan peringatan dari BBPJN Jatim Bali kepada  Bupati, pihak berwenang telah melakukan penertiban terhadap bangunan yang dibangun di lereng jalan, mengingat struktur jalan tidak dirancang untuk menahan beban tambahan. Pemerintah telah melakukan rekayasa jalan yang cermat dengan investasi tambahan dari anggaran APBD senilai Rp 12 miliar dan pemasangan 2 km pagar pengaman yang kokoh dan aman. Sehingga berhasil mengurangi risiko kecelakaan lalu lintas hingga 80% dibandingkan sebelum pembangunan JLS. 

Jumlah kendaraan yang melintas setiap hari mencapai 6.500 unit, dengan pertumbuhan sebesar 52% dibandingkan tahun sebelumnya.

 Terkait dengan kasus longsor di Desa Ngrejo yang pernah terjadi, PPS Kejati Jatim telah menyatakan bahwa kerusakan terjadi akibat faktor alam. Namun pihak berwenang terus melakukan pemantauan dan penguatan struktur tanah di sekitar kawasan berisiko. 

Sebagian dari anggaran Inpres Jalan Daerah senilai Rp 28 miliar juga digunakan untuk memperkuat drainase dan sistem penahan tanah di wilayah ini, sesuai dengan fokus  Bupati terhadap penyelesaian infrastruktur dan keamanan.

 Aksesibilitas yang meningkat secara signifikan telah menjadikan pantai-pantai di Kecamatan Pucanglaban seperti Pantai Dlodo, Pacar, Kedung Tumpang, dan Molang semakin populer di kalangan wisatawan. Jumlah pengunjung meningkat sebesar 55% hingga awal 2026, dengan total kunjungan mencapai 680.000 orang pada tahun 2025. 

Sebagian besar wisatawan (65%) datang untuk menikmati keindahan alam yang masih alami dan terjaga dengan baik. Sementara 35% lainnya datang untuk melakukan aktivitas olahraga alam seperti trekking, selancar, dan snorkeling. 

Sebagai bagian dari rencana pengembangan rest area seluas 5,2 hektare yang diumumkan Bupati, salah satu titik rest area khusus untuk ekowisata juga direncanakan di wilayah ini untuk mendukung kenyamanan wisatawan.

 Pemerintah daerah telah menyelesaikan pembangunan berbagai fasilitas pendukung wisata, termasuk 4 jalur trekking dengan total panjang 15 km. Area pemandian air tawar alami yang dapat menampung hingga 500 orang per hari, serta pusat informasi ekowisata yang telah memberikan edukasi kepada lebih dari 100.000 wisatawan tentang pentingnya kelestarian lingkungan pesisir dan keanekaragaman hayati lokal. Fasilitas ini dibangun melalui dukungan dari DAK dan APBD, sejalan dengan kebijakan Bupati untuk memaksimalkan potensi wisata pada tahun 2025.

 Analisis ekonomi menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata di Pucanglaban memiliki dampak positif yang signifikan pada perekonomian lokal, dengan pertumbuhan usaha akomodasi dan kuliner sebesar 50% dalam satu tahun terakhir. Dari 60 unit menjadi 90 unit usaha aktif. 

Pendapatan rata-rata usaha akomodasi meningkat dari Rp 3 juta menjadi Rp 7,5 juta per bulan. Selain itu, program pengelolaan mangrove yang dilakukan secara bersama antara pemerintah dan masyarakat di sekitar Pantai Dlodo telah memberikan hasil yang luar biasa. Program ini melibatkan 150 keluarga masyarakat lokal dan telah berhasil menanam lebih dari 50.000 pohon mangrove serta melindungi 2 km garis pantai dari abrasi pantai. 

Program ini juga telah menciptakan lapangan kerja bagi 80 orang sebagai pemandu wisata dan pengelola kawasan konservasi.

 Data survei yang dilakukan pada akhir tahun 2025 menunjukkan bahwa Kecamatan Pucanglaban telah menjadi destinasi pilihan untuk wisatawan yang mencari pengalaman alam yang berbeda dan autentik. Dengan tingkat kepuasan mencapai 92%. Sebanyak 40% wisatawan mengunjungi wilayah ini lebih dari satu kali dalam setahun, menunjukkan loyalitas yang tinggi terhadap destinasi ini. 

Dalam upaya mengembangkan ekowisata yang berkelanjutan sesuai dengan harapan  Bupati untuk optimalisasi ekonomi pariwisata, Kecamatan Pucanglaban mengembangkan konsep "Ekowisata Berbasis Masyarakat" dengan menerapkan sistem pengelolaan wisata yang dikelola langsung oleh 12 kelompok masyarakat lokal.

 Inovasi utama melibatkan pembangunan 8 Km jalur sepeda listrik yang menghubungkan JLS dengan berbagai destinasi wisata, yang telah digunakan oleh lebih dari 25.000 wisatawan, dan mengurangi emisi karbon hingga 15 ton per bulan. 

Semua fasilitas wisata yang dibangun menggunakan bahan ramah lingkungan, seperti bambu dan kayu lokal, dengan investasi Rp 5 miliar yang sebagian besar berasal dari dana masyarakat dan pihak swasta. Program "Adopsi Pantai" telah melibatkan 18 perusahaan lokal untuk turut menjaga kebersihan dan kelestarian 4 pantai utama, dengan kontribusi dana sebesar Rp 3,6 juta per bulan. 

Selain itu, aplikasi pemetaan ekowisata "Pucanglaban Alam" telah memberikan informasi rinci tentang rute wisata, flora dan fauna lokal, serta aktivitas yang dapat dilakukan, dengan jumlah unduhan mencapai 10.000 kali.

Keberhasilan pengembangan ekowisata di Kecamatan Pucanglaban berkat kehadiran JLS dan dukungan kebijakan dari  Bupati Gatut Sunu Wibowo telah menjadi motivasi bagi masyarakat untuk terus menjaga kelestarian alam sambil mengembangkan potensi ekonomi. Sebanyak 200 pemuda lokal telah aktif dalam kegiatan konservasi dan pengembangan produk wisata berbasis alam. Ada 30 produk baru yang telah dibuat, seperti kerajinan dari serat mangrove dan minuman khas dari buah lokal. 

Program "Pelestari Alam Muda" telah melatih lebih dari 350 anak muda dalam pengelolaan lingkungan dan pendidikan ekowisata. Sesuai dengan target yang ditetapkan, pemerintah berencana menjadikan Pucanglaban sebagai kawasan ekowisata nasional pada tahun 2028, sebagai bentuk wujud optimalisasi potensi JLS untuk kemajuan daerah.(Bersambung)


Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :