COWASJP.COM – JALUR LINTAS SELATAN (JLS) Jawa Timur bukan sekadar proyek infrastruktur jalan raya semata. JLS dirancang untuk memperkuat konektivitas antarwilayah, mendorong pemerataan pertumbuhan ekonomi, dan mengoptimalkan potensi pariwisata di wilayah selatan Pulau Jawa.
Khusus bagi Kabupaten Tulungagung, kehadiran JLS membawa harapan baru bagi kemajuan daerah yang selama ini terkendala aksesibilitas dan keterbatasan infrastruktur. Proyek ini menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam membangun wilayah dengan menjaga keseimbangan antara perkembangan ekonomi dan pelestarian alam.
Dukungan sinergis dari berbagai tingkat pemerintahan, termasuk Pemerintah Provinsi Jawa Timur, terus dilakukan untuk memastikan JLS berfungsi optimal dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.
MEMBENTANG 54,97 KM
JLS Tulungagung membentang sejauh 54,97 km, melintasi tiga kecamatan utama – Besuki, Kalidawir, dan Pucanglaban. Sekaligus menghubungkan Kabupaten Trenggalek dengan Kabupaten Blitar.
Hingga tanggal 15 Januari 2026, seluruh ruas telah selesai dibangun dan teraspal menggunakan aspal hotmix berkualitas tinggi. Menjadikannya salah satu "jalur turing terindah" di Jawa Timur dengan pemandangan panorama Samudra Indonesia yang memukau di sisi selatan dan hamparan perbukitan hijau yang segar di sisi utara.
Selain pembangunan utama yang dibiayai dari anggaran pusat dan pinjaman luar negeri, upaya peningkatan serta pemeliharaan infrastruktur jalan terus dilakukan melalui kerja sama kolaboratif.
Pada 26 Agustus 2025, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyerahkan bantuan 300 drum aspal senilai sekitar Rp450 juta kepada Pemerintah Kabupaten Tulungagung. Bantuan ini diberikan dalam skema sharing responsibility. Di situ, Pemprov Jatim menyediakan bahan aspal, sedangkan kebutuhan lain seperti tenaga kerja, pasir, dan koral dipenuhi sepenuhnya oleh Pemkab Tulungagung.
"Kami bantu aspalnya, sedangkan untuk tenaga kerja dan bahan lainnya menjadi tanggung jawab Pemkab. Semoga dengan infrastruktur jalan yang lebih baik, aktivitas ekonomi dan jasa di Tulungagung bisa lebih lancar," ujar Khofifah dalam sambutannya.
Menurutnya, Pemprov Jatim siap mendukung program perbaikan infrastruktur jalan di seluruh daerah provinsi. Namun keterbatasan kapasitas membuat skema kolaborasi menjadi solusi efektif. Tulungagung bukan satu-satunya yang mendapatkan dukungan, karena beberapa kabupaten lain seperti Bangkalan juga telah menjalankan dan menyelesaikan proses perbaikan serupa.
Bantuan aspal dari Gubernur Khofifah dialokasikan untuk memperbaiki sekitar 15 kilometer ruas jalan. Sebagian besar merupakan bagian dari JLS dan jalan desa yang berperan sebagai akses pendukung.
Ruas prioritas yang diperbaiki meliputi:
- Jalan Tulungagung-Kedungwaru (±4 km)
- Jalan Gayam-Panjatan (±3,5 km)
- Jalan Rejotangan-Tanggung (±3 km)
- Akses jalan desa Sukomoro (Kecamatan Kedungwaru) – ±1,5 km
- Akses jalan desa Karangrejo (Kecamatan Gayam) – ±1 km
- Akses jalan desa Nguter (Kecamatan Rejotangan) – ±1 km
Pengerjaan perbaikan dimulai pada awal September 2025 dan diharapkan selesai dalam waktu sekitar dua bulan. Wakil Bupati Tulungagung Ahmad Baharuddin menyampaikan apresiasi terhadap bantuan tersebut. Dikatakan bahwa dukungan ini sejalan dengan visi-misi pasangan Bupati Gatut Sunu Wibowo dan dirinya dalam meningkatkan kualitas infrastruktur dasar daerah.
Bupati Gatut Sunu Wibowo menekankan fokus percepatan pembangunan jalan sirip JLS untuk memaksimalkan potensi wisata pada tahun 2025. Prioritas kerja meliputi penyelesaian infrastruktur pendukung, pembangunan rest area, dan penertiban bangunan di lereng jalan untuk menjamin keamanan pengguna.
Perbaikan infrastruktur terus dipercepat dan dipastikan akan berlanjut pada awal tahun 2026. Beberapa poin penting terkait kebijakan pengelolaan JLS Tulungagung adalah:
- Pembangunan Jalan Sirip dan Konektivitas: Fokus pada pembangunan jalan penghubung melalui APBD dan Dana Alokasi Khusus (DAK)
- Target Penyelesaian: Seluruh ruas JLS Tulungagung telah tersambung sesuai target tahun 2025
- Pengembangan Rest Area: Rencana pembangunan rest area seluas 5,2 hektare untuk mendukung kemudahan dan kenyamanan wisatawan
- Keamanan dan Penertiban: Pihak Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jatim Bali mengimbau agar bangunan di lereng jalan ditertibkan, karena struktur jalan tidak dirancang untuk menahan beban tambahan
- Penanganan Longsor: Terkait insiden longsor di Desa Ngrejo, PPS Kejati Jatim menyatakan bahwa kerusakan disebabkan faktor alam, namun pemantauan dan penguatan struktur terus dilakukan
- Optimalisasi Ekonomi: JLS diharapkan menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi dan pengembangan potensi pariwisata di pesisir selatan Tulungagung
Pemerintah pusat telah mengalokasikan anggaran signifikan untuk pembangunan JLS di Tulungagung melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) plus skema pinjaman luar negeri.
Beberapa angka pendanaan yang tercatat adalah:
- Rp 330 Miliar: Dana pinjaman dari Islamic Development Bank (IsDB) pada Juni 2023 untuk menyelesaikan ruas Brumbun-Sine
- Rp 700 Miliar: Alokasi dari pusat pada akhir 2018 untuk pembangunan 17,7 kilometer ruas JLS
- Rp 28 Miliar: Anggaran melalui skema Instruksi Presiden (Inpres) Jalan Daerah tahun 2024 untuk pengembangan jalan sirip
- Rp 175 Miliar (Usulan): Permintaan anggaran dari Pemkab Tulungagung untuk pembangunan jalan sirip dan fasilitas penunjang
Secara keseluruhan, proyek JLS Jawa Timur yang membentang sejauh sekitar 660 Km membutuhkan biaya total sekitar Rp 5 triliun yang didanai melalui APBN. Anggaran ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah pusat dalam menyelesaikan proyek strategis nasional yang berdampak luas bagi pembangunan wilayah.
Selain meningkatkan konektivitas antarwilayah, JLS juga berperan sebagai solusi efektif untuk mengatasi masalah kerawanan longsor yang selama ini menjadi tantangan utama di wilayah pesisir Tulungagung.
Dalam proses pembangunan, pemerintah telah melakukan berbagai upaya mitigasi risiko, termasuk pemasangan 12 titik pagar penahan tanah dan 8 sistem drainase besar yang dirancang secara cermat. Upaya ini berhasil menekan risiko kejadian bahaya hingga 90%, memberikan tingkat keamanan yang lebih baik bagi pengguna jalan dan masyarakat sekitar.
Dampak positif JLS mulai terasa secara signifikan sejak beroperasi. Pada tahun 2025, total kunjungan wisatawan ke Kabupaten Tulungagung mencapai lebih dari 2,3 juta orang. Dibandingkan sebelum pembangunan JLS, terjadi peningkatan kunjungan wisatawan sebesar 72%. Pertumbuhan usaha lokal sebesar 58%, serta peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata sebesar Rp 120 miliar. Semua indikator ini menunjukkan bahwa JLS telah berhasil berperan sebagai katalisator pertumbuhan ekonomi dan kemajuan sosial di wilayah Tulungagung.
Pembangunan JLS Tulungagung telah membuka lembaran baru dalam perjalanan pembangunan daerah. Dengan dukungan anggaran yang signifikan dari pemerintah pusat dan skema pinjaman luar negeri, ditambah bantuan aspal dari Gubernur Khofifah dan komitmen kuat dari Bupati Gatut Sunu Wibowo dalam percepatan pembangunan infrastruktur pendukung, proyek ini tidak hanya menyelesaikan masalah aksesibilitas. Tetapi juga menjadi pijakan kuat bagi perkembangan sektor ekonomi dan pariwisata yang lebih luas.
Keberhasilan pembangunan ini menjadi dasar bagi upaya selanjutnya dalam mengoptimalkan potensi masing-masing kecamatan yang dilalui. Dengan fokus pada pengembangan wisata berkelanjutan dan peningkatan kapasitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). (Bersambung)