KANALPojok Features

Anak 11 Tahun Punya Galeri Seni. Di usia itu Kamu Lagi Ngapain?

Anak 11 Tahun Punya Galeri Seni. Di usia itu Kamu Lagi Ngapain?
Foto: Erwan Eidyarto

COWASJP.COMSORE itu, Rabu (7/1/26), Kampung Purbayan tidak sekadar menjadi kampung wisata. Ia berubah menjadi panggung kecil tempat mimpi, tradisi, dan masa depan seni bertemu dalam satu tarikan napas.

Di antara rumah-rumah tua Kotagede yang menyimpan jejak sejarah, sebuah “pintu“ terbuka pelan. Di situlah Galeri Aileen (Aileen Gallery, Vintage and Antique) lahir. Bukan dengan gegap gempita berlebihan, melainkan dengan kehangatan khas Yogyakarta: ramah, bersahaja, dan penuh makna. Bau bangunan kayu tua bercampur aroma jajanan tradisional menyambut siapa saja yang melangkah masuk.

Sebelum sambutan resmi dimulai, perhatian para tamu sudah lebih dulu tersedot ke halaman galeri. Dua penari cilik, El Nathan dan Jo Nathan, tampil memikat. Gerak mereka luwes, ekspresif, dan penuh percaya diri. Banyak yang berbisik-bisik, “Ini yang videonya viral itu, kan?” 

Ya, mereka memang penari cilik yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial. Tapi sore itu, tarian mereka terasa lebih dari sekadar viral. Ia menjadi  salam pembuka dari generasi baru seni.

Tepuk tangan mengalir panjang. Anak-anak itu tersenyum, seolah berkata: kami siap mengambil giliran.

Tak lama kemudian, Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, berdiri memberi sambutan. Ia berbicara tentang kampung, tentang ruang seni, tentang pentingnya memberi tempat bagi kreativitas agar tumbuh sejak dini. Namun kata-katanya terasa berbeda ketika ia menyadari satu hal: galeri yang diresmikan hari itu bukan milik seniman mapan, melainkan milik seorang anak berusia 11 tahun.

Namanya Aileen Nathania Pranata.

Usai gong kecil ditabuh, para tamu mulai berkeliling. Langkah demi langkah membawa mereka masuk ke ruang galeri yang unik: ada lukisan, ada benda-benda vintage dan antik. Seperti berjalan di lorong waktu. Masa lalu dan masa kini saling menyapa. Ada koleksi batik lawasan. Ada koleksi kuningan zaman HB VIII. 

“Selain koleksi batik, ada juga batik yang dijual. Beberapa kali turis asing datang dan membeli batik serta karya Aileen, “ papar Mawar Dyah Kusumawati, ibunda Aileen.

Di dinding, sekitar lima puluh karya terpajang rapi. Ada lukisan bergaya anime dengan garis tegas dan warna berani. Ada interpretasi tentang Sumbu Filosofi Yogyakarta, tentang imajiner garis sakral yang menghubungkan gunung, keraton, dan laut. Namun mata banyak orang berhenti lebih lama pada satu tema yang berulang: perempuan berkebaya.

Perempuan-perempuan itu tidak selalu tersenyum. Ada yang menunduk, ada yang menatap lurus, ada yang seolah sedang berpikir. Kebaya mereka digambar dengan penuh cinta. Lipatan kain, motif, dan warna terasa hidup.

“Aileen memang suka sekali perempuan berkebaya,” ujar sang ibu, ketika ditanya. Nada suaranya lembut, seperti sedang bercerita tentang kebiasaan kecil di rumah. “Sejak kecil, dia senang menggambar perempuan. Kebaya itu seperti bahasa visualnya.”

Bahasa visual seorang anak, ternyata mampu membuat banyak orang dewasa terdiam.

Di ruangan itu, beberapa seniman senior tampak  melihat karya dengan antusias. Salah satunya Nasirun. Ia mengamati beberapa karya.  Akhirnya angkat bicara, kalimatnya sederhana tapi langsung memecah suasana.

“Karya Aileen keren-keren,” katanya. Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada bercanda, “Umur 11 tahun saya dulu baru bisa apa ya?”

Ruangan seketika dipenuhi tawa. Tawa yang bukan meremehkan, melainkan mengakui: ada sesuatu yang istimewa di hadapan mereka.

Sementara itu, di luar galeri, meja-meja kecil berisi sajian tradisional mulai ramai. Ada sere jahe hangat, teh, kopi,  ada jajanan pasar, dan tentu saja kembang waru, makanan khas Kampung Wisata Purbayan. Bentuknya sederhana, rasanya manis, dan kehadirannya seperti penegasan bahwa seni hari itu tidak tercerabut dari akar kampung.

Para tamu keluar-masuk galeri, berpindah dari lukisan ke lukisan, dari obrolan ke obrolan. Wawan Harmawan ikut menyusuri ruang, sesekali berhenti, sesekali bertanya. Tidak ada jarak kaku antara pejabat, seniman, warga, dan anak-anak. Semua larut dalam rasa ingin tahu yang sama.

Di tengah keramaian itu, Aileen tidak banyak bicara.  Sesekali tersenyum ketika seseorang memuji karyanya. Mungkin baginya, hari itu bukan tentang peresmian atau sambutan. Mungkin ia hanya merasa senang melihat gambar-gambarnya tergantung di dinding, dilihat banyak orang.

Namun bagi Kampung Purbayan, bagi Kotagede, bagi Yogyakarta, hari itu adalah penanda.

Bahwa seni bisa tumbuh dari rumah kecil di kampung.

Bahwa galeri tidak harus megah untuk bermakna.

Bahwa masa depan seni rupa bisa dimulai dari tangan seorang anak yang gemar menggambar perempuan berkebaya.

Saat sore merambat pelan dan cahaya mulai menguning, Galeri Aileen berdiri sebagai ruang baru. Bukan hanya untuk memamerkan karya, tetapi untuk menyimpan harapan. Harapan bahwa seni akan terus hidup, diwariskan, dan dirayakan. Dari kampung, untuk dunia.*


Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :