KANALPojok Features

Pasca Bencana, LPBI PBNU Bantu Penyediaan Air Bersih di Padang

Pasca Bencana, LPBI PBNU Bantu Penyediaan Air Bersih di Padang
Petugas dari LPBI NU saat tugas dilapangan pasok air bersih. (FOTO: Istimewa)

COWASJP.COM – BENCANA BANJIR bandang dan longsor yang melanda Kota Padang, Sumatera Barat, pada awal tahun 2026 tidak hanya menghancurkan hunian dan sarana prasarana. Tetapi juga menciptakan krisis akses air bersih yang mengancam kesehatan masyarakat. 

Di tengah keterbatasan layanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang tidak berfungsi optimal di sebagian besar wilayah terdampak, Lembaga Penanggulangan Bencanan dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI PBNU) muncul sebagai ujung tombak bantuan kemanusiaan. Dengan mengoperasikan mobil sanitasi air bersih, memberikan harapan nyata bagi ribuan korban bencana.

Hingga saat ini, persoalan air bersih masih menjadi ancaman serius bagi masyarakat terdampak bencana di Kota Padang. Banjir bandang yang meluapkan air sungai membawa lumpur dan kotoran yang mengkontaminasi sumber air yang biasanya digunakan warga sehari-hari. 

Kondisi ini diperparah dengan tidak berfungsinya jaringan pipa PDAM di banyak lokasi. Hingga akses air layak pakai menjadi sangat terbatas.

Menanggapi kondisi darurat tersebut, LPBI PBNU segera mengirimkan mobil sanitasi air bersih yang beroperasi di sekitar Sungai Guo, Kecamatan Kuranji. 

Anggota LPBI PBNU, Beny Syaaf Jafar, menjelaskan bahwa mobil sanitasi yang dibawa memiliki kemampuan untuk mengolah air sungai yang keruh dan tidak layak konsumsi menjadi air bersih yang aman digunakan bahkan siap diminum.

“Tujuan pengiriman mobil sanitasi air bersih ini tentu untuk membantu saudara-saudara kita yang terdampak bencana. Khususnya dalam pemenuhan kebutuhan air bersih. LPBI NU memiliki fasilitas mobil sanitasi yang telah siap digunakan sebagai bagian dari persiapan penanggulangan bencana dalam kondisi darurat,” ucapnya dalam pada Minggu (4/1/2026).

Pemilihan lokasi operasional di sekitar Sungai Guo dilakukan atas rekomendasi Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumatera Barat, yang telah melakukan survey lapangan dan mengidentifikasi lokasi dengan kebutuhan paling mendesak. 

Selama dua hari beroperasi, layanan ini mendapat sambutan sangat positif dari masyarakat setempat yang selama beberapa hari berturut-turut kesulitan mendapatkan air bersih.

“Alhamdulillah, tanggapan warga sangat baik. Di daerah ini sebenarnya sudah ada jaringan PDAM, tetapi setelah terjadi banjir, saluran airnya terganggu sehingga tidak dapat mengalirkan air dengan normal. Akibatnya, warga benar-benar kesulitan mendapatkan air bersih untuk keperluan sehari-hari,” ungkap Beny.

Secara teknis, sistem kerja mobil sanitasi air bersih cukup kompleks namun efektif. Alat berat ini bekerja dengan menyedot air dari sumber terdekat seperti sungai, sumur, atau waduk melalui pipa khusus. Air kemudian dialirkan ke dalam sistem penyulingan yang terpasang di dalam mobil, yang dioperasikan menggunakan mesin genset untuk memenuhi kebutuhan daya listrik di lokasi yang belum memiliki pasokan listrik normal.

Proses pengolahan air memerlukan waktu sekitar satu hingga dua jam tergantung pada kondisi kualitas air sumber. 

“Air sungai yang keruh ditampung terlebih dahulu dalam tangki sementara, kemudian melalui tahap penyaringan dan penyulingan sehingga menghasilkan air bersih yang memenuhi standar kesehatan dan layak digunakan,” terangnya terkait fungsi alat tersebut.

Dalam satu hari kerja penuh, mobil sanitasi LPBI PBNU mampu memproduksi hingga 2.000 liter air bersih. Air yang dihasilkan langsung dimanfaatkan oleh warga untuk berbagai kebutuhan sehari-hari. Mulai dari memasak, mandi, mencuci pakaian, hingga keperluan domestik lainnya. 

Banyak warga datang membawa berbagai jenis wadah penampung, mulai dari galon bekas, jerigen plastik, hingga ember yang biasa digunakan untuk menyimpan air.

Beny menegaskan bahwa ketersediaan air bersih pascabencana bukan hanya masalah kenyamanan, tetapi juga sangat krusial untuk mencegah munculnya berbagai penyakit menular seperti diare, tipus, atau penyakit kulit yang dapat menyebar dengan cepat melalui air kotor. 

“Kami berharap keberadaan mobil sanitasi ini dapat memberikan kontribusi nyata dalam membantu warga. Karena penggunaan air kotor pascabencana sangat berisiko menimbulkan penyakit yang dapat memperparah kondisi sulit yang sedang dialami masyarakat,” tambahnya.

Ke depan, LPBI PBNU berencana memperluas jangkauan layanan mobil sanitasi air bersih ke wilayah lain di Sumatera Barat. Yang juga terkena dampak bencana, seperti Kabupaten Padang Pariaman dan Kabupaten Agam. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan LPBI PBNU dalam menjaga kesehatan dan keselamatan masyarakat pascabencana. Serta membantu proses pemulihan wilayah terdampak.

Semoga bantuan yang diberikan oleh LPBI PBNU melalui mobil sanitasi air bersih dapat meringankan beban yang dialami oleh saudara-saudara kita yang terkena dampak bencana di Padang dan sekitarnya. Semoga air bersih yang dihasilkan menjadi berkah bagi kesehatan dan kelangsungan hidup mereka. Serta menjadi langkah awal untuk mencegah munculnya wabah penyakit pascabencana. 

Doakanlah agar proses pemulihan wilayah terdampak berjalan dengan cepat dan lancar. Sehingga masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari dengan aman dan layak. 

Semoga juga seluruh upaya kemanusiaan yang dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk Nahdlatul Ulama melalui LPBI PBNU, senantiasa mendapatkan ridho dan berkah dari Allah SWT. Semoga kita semua diberikan kekuatan dan kemudahan untuk saling membantu dalam menghadapi ujian apapun yang datang.(*) 


Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :