KANALPojok Features

Jalur Lintas Selatan Blitar (3)

Potensi Pariwisata di Sekitar JLS Harus Dikelola dengan Cermat dan Dongkrak Usaha Warga Lokal

Potensi Pariwisata di Sekitar JLS Harus Dikelola dengan Cermat dan Dongkrak Usaha Warga Lokal
Jalur Lintas Selatan Blitar. (FOTO: Istimewa)

COWASJP.COMDENGAN semakin mudahnya akses melalui JLS, potensi pariwisata di sekitar Blitar seperti pantai-pantai dan curug menjadi semakin besar. 

Rencana pengembangan tahun 2026 yang meliputi pembangunan terminal wisata dan berbagai aktivitas baru memang sangat menjanjikan. 

Namun, saya melihat dua sisi yang berlawanan. Satu sisi adalah peluang ekonomi yang besar, di sisi lain adalah risiko kerusakan lingkungan dan eksploitasi yang bisa merusak potensi jangka panjang. 

Bagaimana kita bisa mengembangkan pariwisata tanpa mengorbankan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat lokal? Sesuai dengan komitmen Gubernur Khofifah untuk menjadikan Jawa Timur sebagai destinasi wisata yang berkelanjutan dan bermanfaat bagi masyarakat, serta arahan Bupati Rijanto tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan pelestarian alam?

BACA JUGA: Progres Bertahap yang Harus Jadi Katalisator Pertumbuhan Ekonomi​

Rencana Disbudpar untuk membangun terminal wisata skala kecil di sekitar Pantai Pudak adalah langkah yang strategis. Dengan fasilitas lengkap seperti ruang informasi wisata, area parkir yang teratur, toilet ramah lingkungan, dan jalur setapak yang aman menuju pantai. Terminal ini bisa menjadi titik awal yang menarik bagi wisatawan. 

Pengembangan aktivitas baru seperti snorkeling dengan panduan lokal yang telah terlatih, edukasi konservasi terumbu karang, dan pertunjukan seni budaya lokal adalah cara yang tepat untuk memberikan nilai tambah bagi kunjungan wisatawan. 

Hal ini selaras dengan apa yang dikatakan Khofifah bahwa sektor pariwisata harus menjadi sektor andalan untuk mendongkrak ekonomi masyarakat, dengan tetap memperhatikan kelestarian sumber daya alam. 

BACA JUGA: Rest Area sebagai Wadah UMKM Lokal atau Cuma Fasilitas yang Tak Terkelola?​

Bupati Rijanto juga pernah menyampaikan bahwa pariwisata yang dikelola dengan baik dapat menjadi sumber penghasilan yang berkelanjutan bagi masyarakat lokal.

 Saya sangat mendukung rencana pengelolaan oleh BUMDes dengan pendampingan dari Disbudpar. Ini adalah model yang tepat karena memberikan kekuasaan kepada masyarakat lokal untuk mengelola sumber daya mereka sendiri. Seperti yang terjadi di Desa Wisata Kasongan di Yogyakarta, di mana pengelolaan oleh masyarakat lokal membuat pariwisata menjadi sumber penghasilan yang merata dan berkelanjutan. 

Rencana Festival Pantai Selatan Blitar pada Juli 2026 juga menjadi ajang promosi yang sangat baik untuk memperkenalkan keindahan Blitar kepada khalayak luas. Seharusnya menjadi bagian dari upaya mempromosikan destinasi wisata selatan Jatim yang juga menjadi fokus perhatian Khofifah. Ini mengingat Jatim telah menjadi destinasi wisata domestik terpopuler di Indonesia. 

Bupati Rijanto juga mengungkapkan harapannya agar festival ini dapat meningkatkan citra Blitar sebagai destinasi wisata yang menarik dan bermanfaat bagi masyarakat.

 Namun, kita harus belajar dari kesalahan di beberapa tempat wisata di Indonesia, yang tumbuh terlalu cepat tanpa pengelolaan yang baik. Contohnya, Pantai Kuta di Bali yang kini menghadapi masalah banjir akibat abrasi dan polusi sampah akibat aktivitas wisata yang tidak terkontrol. 

Di Blitar, kita harus memastikan bahwa pengembangan pariwisata tidak mengorbankan kelestarian lingkungan. Penataan pantai dengan penanaman mangrove dan pembuatan area konservasi terumbu karang adalah langkah yang benar dan harus terus diperkuat. 

Khofifah telah menunjukkan komitmen yang tegas terhadap pembangunan berkelanjutan, bahkan tidak ragu untuk melakukan penindakan terhadap perusahaan yang mencemari lingkungan. Prinsip ini harus diterapkan dalam pengembangan pariwisata sekitar JLS Blitar. 

Bupati Rijanto juga menegaskan bahwa masyarakat harus mampu mengelola sumber daya alam dengan bijak, bertanggung jawab, dan berkelanjutan. Seperti yang dia sampaikan saat menyerahkan sertifikat redistribusi tanah akhir tahun ini.

Selain itu, saya menekankan bahwa manfaat ekonomi dari pariwisata harus dirasakan oleh seluruh masyarakat sekitar, bukan hanya oleh segelintir orang. Program pendampingan bagi masyarakat untuk menjadi pemandu wisata, penjaga lingkungan, atau pengusaha rumah makan kecil harus menjadi bagian penting dari rencana pengembangan. 

Ini sesuai dengan upaya Khofifah untuk menurunkan angka kemiskinan ekstrem di Jatim, di mana Kota Blitar telah dinyatakan bebas kemiskinan ekstrem pada tahun 2024. Dan pariwisata harus menjadi salah satu motor penggerak untuk menjaga dan meningkatkan pencapaian tersebut. 

Bupati  juga berkomitmen untuk terus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui berbagai program pembangunan yang berbasis potensi lokal, termasuk pariwisata.

 Potensi pariwisata di sekitar JLS Blitar sungguh luar biasa. Kita memiliki pantai yang indah, alam yang asri, dan budaya yang kaya. Namun, potensi ini hanya akan menjadi berkah jika kita mengelolanya dengan cermat, memperhatikan kelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat lokal sesuai dengan komitmen Gubernur Khofifah dan arahan Bupati. 

Jangan biarkan pariwisata menjadi sumber masalah. Jadikanlah sebagai motor penggerak ekonomi yang membawa kebahagiaan bagi seluruh rakyat Blitar.(Habis)


Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :