KANALPojok Analisis

Lecehkan Islam, Kristen dan Polisi, Joseph Paul Zhang Layak Diburu

Lecehkan Islam, Kristen dan Polisi, Joseph Paul Zhang Layak Diburu
Joseph Paul Zhang memantik kontroversi setelah mengaku sebagai nabi ke-26 bagi umat Islam dan menghina Nabi Muhammad SAW, belum lama ini. Pemilik Shindy Paul Soerjomoelyono juga pernah membuat pernyataan mengejutkan yang terkesan membela Partai Komunis In

COWASJP.COM – APAKAH Jozeph Paul Zhang (JPZ) hanya melukai perasaan umat Islam, dengan pernyataannya yang melecehkan Rasulullah Muhammad SAW? Hemat saya, dia telah melecehkan tiga pihak sekaligus. Yaitu Islam, Kristen dan pihak kepolisian.

Karuan saja, pernyataannya yang dia sampaikan dengan cara penuh keangkuhan dan sangat jorok telah merobek perasaan umat Islam. Sementara para pemeluk Kristen – yang memiliki wawasan keagamaan yang luas dan membaca Alkitab – tentu terperanjat. Mereka pun ikut protes. Karena agama mereka tidak mengajarkan cara-cara seperti itu. Umat Kristiani bahkan merasa bahwa ajaran kitab sucinya dinodai, dinista, dan dikotori oleh ucapan-ucapan provokatif  JPZ.

BACA JUGA: Mosi Integral Natsir​

Di samping itu, pihak kepolisian tentunya merasa direndahkan. Karena dia tidak hanya melecehkan Nabi Besar Umat Islam, tapi juga mengadakan sayembara. Yaitu akan memberi hadiah uang masing-masing Rp 1 juta kepada siapa pun yang berani mengadukannya kepada pihak kepolisian. Bisa jadi si pengecut ini berprasangka pihak kepolisian tidak akan mengusutnya. Karena jauh sebelumnya dia sudah lari meninggalkan negeri ini. Barangkali dia menyangka polisi tidak akan mampu memburunya. 

Kita tidak habis pikir, tentu saja, mengapa pria yang disebut-sebut sebagai pendeta ini tiba-tiba melecehkan Nabi Muhammad SAW dan mengaku sebagai nabi ke-26. Menurutnya, pengakuan Nabi ini dimaksudkannya dalam konteks meluruskan ajaran Nabi ke-25. 

Karena itu dia telah dilaporkan ke Bareskrim Polri atas dugaan penistaan agama. Dan pihak kepolisian pun dengan sigap menetapkannya sebagai tersangka penista agama. 

Menurut keterangan Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Rusdi Hartono, Polri bakal segera merilis JPZ dalam daftar pencarian orang (DPO). DPO atas nama pria, yang memiliki nama asli Shindy Paul Soerjomoeljono, ini akan diserahkan ke Interpol. Dan DPO ini akan menjadi dasar bagi Interpol untuk menerbitkan red notice.

Berdasarkan informasi dari database perlintasan Imigrasi, menurut Rusdi, JPZ terakhir kali meninggalkan Indonesia menuju Hong Kong pada 11 Januari 2018. Tapi berdasarkan penelusuran Polri, saat ini dia berada di Jerman. Masyarakat Indonesia, baik yang muslim maupun Kristen, tentu berharap dia segera ditangkap. 

Bagaimanapun, agama merupakan keyakinan absolut seseorang akan Tuhannya. Tak peduli apapun kepercayaannya. Bila si penganut beriman, dia pasti akan tersinggung kalau ada yang mengolok-olok dan melecehkan agamanya. Begitu juga dengan umat Islam yang nabinya baru saja dilecehkan. Tentu saja kita tidak menginginkan hal ini akan memicu kemarahan umat Islam. Tidak hanya di negeri ini. Tapi bahkan juga umat Islam di mana pun di berbagai belahan dunia, bila mereka mengetahui persoalan ini. Sehingga menimbulkan kegaduhan di dalam maupun luar negeri. 

Aksi pelecehan seperti ini sudah berulang kali terjadi. Dan itu menimbulkan sejumlah tragedi kemanusiaan yang memilukan. Sebut saja misalnya aksi protes terhadap novel karya Salman Rushdie. Novel dengan judul “The Satanic Verses” ini memicu kemarahan umat Islam di India pada 1989. Yang mengakibatkan ribuan orang berbondong-bondong turun ke jalan. Melakukan aksi demonstrasi di depan Kedubes Inggris. Sehingga mereka bentrok dengan pihak keamanan setempat. Akibatnya, 12 orang tewas dan 40 lainnya luka-luka dalam peristiwa itu. 

Masalah novelis Salman Rushdie ternyata tidak hanya sampai di situ. Karena beberapa waktu kemudian, dia bahkan menerima fatwa hukuman mati dari pemimpin spiritual tertinggi Iran kala itu, Ayatullah Ruhollah Khomeini. Lantaran itu bahkan sampai 3 dekade kemudian, Salman Rushdie yang berkewarganegaraan Inggris masih harus berlindung di balik pengawalan ketat 24 jam dari pihak keamanan Inggris. Dia juga terpaksa menggunakan nama samaran dalam tempo yang sangat lama. Tidak berani tampil di muka umum, karena takut menghadapi ancaman hukuman mati itu.

Tragedi yang tidak kalah memilukan terjadi pula di Denmark. Ketika sebuah surat kabar negeri itu menerbitkan kartun “Wajah Nabi Muhammad” pada 30 September 2005. Yang mendapatkan protes dari ratusan ribu orang. Menyebabkan demonstran bentrok dengan pihak keamanan. Sehingga hampir 250 orang tewas dan lebih dari 800 orang terluka. 

paul.jpgDESAIN: fin.co.id

Usai penerbitan kartun “Wajah Nabi Muhammad” yang kontroversial itu, beredar video di situs Youtube dengan judul 'Innocence offair Muslims'. Video yang dianggap membuat hubungan Islam dan NEGARA-NEGARA Barat menjadi rusak. 

Dan kasus pelecehan yang paling heboh adalah penyerangan terhadap kantor tabloid Charlie Hebdo di Paris, 7 Januari 2015. Ini dipicu oleh tingkah polah para kartunis tabloid mingguan itu yang suka nyeleneh. Seperti menghina kesucian simbol agama. Setelah beberapa kali melecehkan Yesus Kristus, lalu giliran Nabi Muhammad yang dijadikan sasaran hinaan. 

Karuan saja hari Rabu (7/1/2015) malam waktu setempat, beberapa pria bersenjata berhasil masuk ke dalam kantor tabloid mingguan Charlie Hebdo. Mereka menembaki beberapa kartunis tabloid tersebut dan juga polisi. Sedikitnya 12 orang dilaporkan tewas akibat penyerangan itu.

Setelah melalui drama yang panjang dan melibatkan 80 ribu personel kepolisian, lima helikopter, dan 20 mobil polisi, barulah tragedi ini berakhir. Setelah dua kakak beradik asal Aljazair di antara pelaku penyerangan– Said Kouachi dan Cherif Kouachi – ditembak mati oleh petugas kepolisian. Mereka tidak hanya licin. Tapi juga nekad menyandera seorang wanita dalam pelariannya. 

Meskipun secara faktual tragedi itu telah berakhir, namun drama teror diyakini belum selesai. Prancis dan Amerika Serikat masih menerapkan siaga satu atas ancaman baru dari kelompok militan beberapa lama setelah itu. Beberapa cerita di atas hanya beberapa saja di antara begitu banyak tragedi kemanusiaan, akibat ulah segelintir orang yang konyol. 

Ajaran Islam dan Kristen

Bicara tentang kasus-kasus pelecehan terhadap simbol-simbol agama, rasanya tidak ada pemeluk agama yang berakal sehat setuju dengan tindakan yang memalukan ini. Sahabat saya, Pitan Daslani –mantan editor harian the Jakarta Post dan seorang penganut Kristen yang taat – berpendapat bahwa ini tidak hanya melecehkan Islam, tetapi juga ajaran Kristen sekaligus. 

Dalam tulisannya di media daring IleadersTV.com tentang kasus JPZ, Pitan menjelaskan bahwa perintah Alkitab adalah "menjadikan sekalian bangsa murid Tuhan". Mengajar dengan kasih persaudaraan. Bukan menghina agama lain atau mengagamakan orang yang sudah beragama. Yang tentu saja bertentangan dengan hukum negara ini.

“Hal ini sering tidak dipahami oleh para apologet picik seperti JPZ. Yang menyangka dengan argumentasi dan perdebatan maka seseorang dapat pindah agama. Ini kesesatan yang nyata, sekaligus perbuatan melanggar hukum,” tulis pria yang di kalangan teman-teman wartawan sering disebut Ustad Kristen ini. 

JPZ mungkin menyangka bahwa dengan menghina agama Islam dan nabinya, maka ia telah membela agama Kristen. Padahal sama sekali tidak! Justru sebaliknya. Ketika ia menghina Islam, ia sebetulnya sedang menghina ajaran kasih yang dipesankan di dalam Alkitab. Sebagai apologet atau pembela agama Kristen yang menurut ajaran Kristen justru mesti disampaikan dengan santun dan cara-cara terhormat, mestinya dia menghindari perbuatan tercela itu.

“Maka kesimpulan saya sederhana: JPZ tidak mengerti ajaran Kristiani yang sesuai dengan isi Alkitab. Dia bahkan mungkin seorang radikal atau ekstrimis mabuk agama yang berniat merusak ajaran Kristiani, dengan jalan menista agama Islam. Dengan harapan dapat menimbulkan keresahan dan pertikaian antar umat beragama di Indonesia. Dalam konteks ini ia dapat Adikategorikan sebagai musuh negara,” tulisnya. 

Karena itu, menurut Pitan, tidak salahlah kalau perbuatan JPZ disebut telah menghianati perintah Alkitab. Video-videonya bukan saja menista agama Islam, tetapi sekaligus juga menista agama Kristen. Karena tidak satupun ajaran Kristen yang menyuruh pengikutnya menghina agama lain, seperti ucapan-ucapan provokatifnya itu. Ajaran Kristen yang didasarkan pada pengejawantahan “Kasih Tuhan” benar-benar telah dinodai oleh pria yang ternyata telah menjadi pahlawan kesiangan itu. 

paul1.jpgJuru Bicara Wapres Masduki Baidlowi mengatakan, Wapres juga mengapresiasi langkah Bareskrim Polri. Yang sudah menetapkan Paul Zhang sebagai tersangka atas kasus dugaan penistaaan agama. Wapres juga berharap masyarakat tidak terpancing dengan ujaran kebencian Paul Zhang tersebut. (FOTO: antvklik.com)

Tidak bisa dipungkiri, beberapa poin ajaran Alkitab memperlihatkan kekeliruan JPZ dalam memahami agamanya sendiri. Di antaranya, alkitab mengajarkan: "Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia." (Efesus 4:29)

Bahkan ajaran kasih yang paling terkenal adalah seperti tercantum di dalam alkitab, yang berbunyi: "Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu." (Matius 5:39).

Begitu juga ajaran alkitab yang lain: “Siapa bijak hati, memperhatikan perintah-perintah, tetapi siapa bodoh bicaranya, akan jatuh". (Amsal 10:8).

"Di bibir orang berpengertian terdapat hikmat, tetapi pentung tersedia bagi punggung orang yang tidak berakal budi." (Amsal 10:13)

"Orang bijak menyimpan pengetahuan, tetapi mulut orang bodoh adalah kebinasaan yang mengancam". (Amsal 10:14)

Lalu bagaimana dengan ajaran Islam? Islam adalah agama yang dimaksudkan sebagai rahmat bagi sekalian alam. Ia merupakan proklamator pertama hak azazi manusia (the first declarator of human right). 

Setelah mengalami masa kejahiliyahan yang panjang, Islam diturunkan untuk memperbaiki nilai-nilai kemanusiaan yang sudah rusak parah. Bukan menghancurkannya. Kehadiran Islam adalah demi perdamaian abadi di antara umat manusia. Bukan untuk menciptakan permusuhan. Islam adalah agama untuk persatuan. Bukan untuk perpecahan. Islam adalah agama untuk kemajuan dan kesejahteraan seluruh umat manusia. Bukan untuk kehancuran dan kebinasaan. 

Karena itu, ajaran Islam tidak membenarkan seseorang menghina, mencela dan melecehkan pihak lain. Sebagaimana firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, jangan sampai suatu kelompok menghina kelompok lain.  Mungkin yang dihina lebih baik dari yang menghina. Jangan ada wanita menghina wanita lain. Mungkin yang dihina lebih baik dari yang menghinanya. Jangan kamu saling mencaci dan memberi nama ejekan. Amatlah buruk nama yang berbau fasik dilontarkan sesudah beriman. Barang siapa tidak bertobat dialah orang yang zalim. (QS. Alhujurat 11). 

Bahkan dalam membangun kehidupan bersama yang rukun dan aman tenteram, Islam mengajarkan: “Katakan Muhammad: Hai ahli kitab, mari kita bersatu di bawah satu kalimat yang sama antara kami dan kamu. Kita tidak menyembah kecuali Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.....................”  (QS. Ali Imran 64). 

Islam sesuai namanya adalah agama kedamaian. Karena itu Islam tidak membenarkan umatnya memaksa orang untuk memeluk agama mereka. 

Menurut sebuah cerita yang diriwayatkan dari Ibnu Jurair, yang dia dapatkan dari Said dan bersumber dari Ibnu Abbas, ada seorang pria Golongan Anshar dari Bani Salim yang bernama Hushaid. Pria ini mempunyai dua orang anak yang beragama Nasrani. Sedangkan dia sendiri adalah seorang muslim. 

Karena itu, dia bertanya kepada Nabi SAW: “Bolehkah saya paksa kedua anak itu, karena mereka tidak taat kepadaku, dan tetap ingin beragama Nasrani?” 

Berkenaan dengan itu, turunlah sebuah firman Allah yang berbunyi: “Tidak ada paksaan untuk memeluk agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas yang benar dari yang salah.” (QS. Albaqarah 256)

Layak Diburu

Kembali kepada tindakan pelecehan dan ujaran kebencian yang dilontarkan JPZ, bagaimana mestinya para penganut agama bersikap? Dan bagaimana pula pihak kepolisian mestinya bertindak? Dalam konteks berbangsa dan bernegara, jelas bahwa semua ujaran kebencian yang diucapkan oleh apologet keblinger ini hanya dimaksudkan untuk mencari sensasi, mencari viewers dan subscribers di dunia maya. Motivasinya bisa jadi hanya untuk mendapat keuntungan secara materi dari Youtube. Tapi dia tidak faham bahwa itu bertentangan, bahkan melanggar hukum negara ini. Di mana semua ucapan dan tindakan yang menyangkut SARA dilarang keras karena merupakan perbuatan pidana.

Bagaimanapun, di tengah keterbelahan bangsa akibat pilihan-pilihan politik hendaknya pemerintah lebih serius dalam menautkan persatuan dan kesatuan bangsa yang semakin rapuh. Pemerintah harus bergerak cepat. Jangan sampai isu-isu SARA seperti ini justru membuat perpecahan anak bangsa jadi semakin memburuk. Karenanya, orang-orang seperti JPZ ini layak diganjar dengan hukuman yang setimpal. Dengan demikian dia layak diburu pihak berwajib. (*)

Penulis: Nasmay L. Anas, wartawan senior dan pemerhati persoalan publik.


Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :