KANALPojok Analisis

Mudik Curi Start

Mudik Curi Start
Warga bisa saja mudik sebelum 6 Mei 2021. Sebelum larangan mudik diberlakukan. Tapi waspadailah ancaman gelombang III penularan virus Covid-19 yang lebih besar. (FOTO: tribunnews.com)

COWASJP.COM – Mudik lebaran resmi dilarang. Tapi tidak berarti bahwa lebaran tahun ini tanpa aktivitas mudik sama sekali. Peraturan ketat boleh dibuat di atas kertas. Tapi di “bawah kertas” masyarakat lebih kreatif menyiasatinya.

Maling lebih pintar daripada polisi. Begitu kata orang. Sekeras apapun aturan masih banyak cara untuk menghindari. Pelanggar peraturan bisa main kucing-kucingan dengan petugas. Kalau di atas kertas ada aturan, di “bawah kertas” aturan itu bisa diselesaikan.

Pepatah Inggris mengatakan, “Rules are made to be broken”, aturan diciptakan untuk dilanggar. Selalu ada cara untuk melanggar peraturan. Selalu ada lubang untuk lolos dari aturan.

Pemerintah sudah menetapkan 6 sampai 17 Mei sebagai hari haram mudik. Semua moda transportasi darat, laut, dan udara tidak boleh beroperasi pada hari-hari itu.

Ini artinya mobilitas nasional antar-kota dan antar-provinisi tidak diperbolehkan selama masa larangan mudik. Meski begitu mobilitas regional masih diizinkan. Pemerintah menetapkan sejumlah wilayah aglomerasi yang mendapatkan pengecualian pergerakan kendaraan.

Menyiasati larangan ini para pemudik tak kehilangan akal. Mereka menyiasati dengan curi start, mudik awal, sebelum deadline haram mudik tiba. Hari-hari ini terlihat peningkatan aktivitas mudik yang cukup tinggi di berbagai kota besar. Biasanya pemerintah menetapkan tuslah, pembatasan kenaikan harga tiket transportasi selama lebaran. Tapi karena tahun ini tidak ada mudik maka tidak ada aturan tuslah resmi. Harga tiket pun melambung sampai 100 persen.

TIDAK DIANTISIPASI

Curi start mudik awal ini tentu harus diantisipasi di berbagai daerah. Ide awal larangan mudik adalah supaya tidak terjadi transmisi virus dari kota besar ke daerah. Kalau kemudian sekarang mudik terjadi lebih awal berarti tujuan untuk menghentikan atau mengurangi mobilitas tidak tercapai. Pemerintah tampaknya tidak mengantisipasi gelombang mudik awal ini.

Sudah hampir bisa dipastikan  bahwa para pencuri start mudik ini tidak akan menaati protokol kesehatan, terutama melakukan karantina mandiri selama sedikitnya seminggu. Hal ini tentu meningkatkan risiko transmisi penularan dari kota ke desa yang menjadi tujuan utama larangan mudik nasional. Ketika para pemudik itu sudah sampai di daerahnya tidak ada lagi yang bisa membatasi pergerakannya, karena umumnya mereka hanya melakukan pergerakan lokal atau regional. Dengan adanya pembolehan gerakan di wilayah aglomerasi dipastikan mobilitas masyarakat akan tetap padat selama libur lebaran.

Tempat wisata dan hiburan akan diizinkan untuk beroperasi selama liburan. Ini berarti potensi kerumunan akan terjadi dan risiko penularan akan cukup tinggi. Pemerintah tampaknya masih belum sepenuh hati melarang pergerakan yang menimbulkan kerumunan. Tarik menarik antara penanganan pandemi dengan upaya untuk menggerakkan ekonomi tetap menjadi dilema. Menghentikan sama sekali pergerakan mudik berarti sebuah opportunity lost yang bernilai ratusan triliun. Dari penduduk Jabotabek yang berjumlah hampir 15 juta jiwa diperkirakan aliran uang yang dibawa pemudik mencapai Rp 10 triliun. selama masa liburan tersebut kegiatan perekonomian di beberapa provinsi di Pulau Jawa, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta menggeliat, terutama makanan, hiburan, dan penginapan. Transaksi keuangan para pekerja meningkat untuk membayar biaya-biaya konsumsi kuliner sehingga perputaran uang di masyarakat cukup besar.

MUDIK-ror.jpgGelombang mudik dengan mengendarai sepeda motor. (FOTO: tribunnews.com - motorplus-online.com)

Tak hanya dari transaksi pemudik, perputaran uang dalam periode tersebut juga datang dari remitansi atau hasil pengiriman uang pekerja migran ke Tanah Air. PT Pos Indonesia memprediksi, sirkulasi uang dari remitansi jelang Lebaran besarnya bisa mencapai Rp 4 triliun. Dengan segala hiruk pikuk aktivitas perkonomian itu, Bank Indonesia (BI) memroyeksi, perputaran uang selama periode libur Lebaran ini sedikitnya mencapai Rp 188,2 triliun.

Jumlah ini tentu membuat ngiler, apalagi dalam kondisi ekonomi yang megap-megap seperti sekarang. Karena itu kebijakannya jadi tarik ulur, mulur mengkeret, kepala dilepas tapi ekor digandoli.

Faktor teologi dan budaya masyarakat yang mayoritas masih berpandangan fatalistik memperburuk keadaan. Mayoritas pemeluk Islam, terutama di wilayah pedesaan percaya kepada teologi Jabariyah yang fatalistis. Bagi kalangan fatalis ini mati dan hidup adalah urusan takdir, kalau waktunya mati pasti akan mati, kalau umur ditakdirkan panjang pasti akan selamat dari penyakit apapun. Semua peristiwa dalam kehidupan sudah tertulis dan tergaris, sudah ada predestination yang tidak bisa dihindari. Budaya Jawa kemudian memperkuat pandangan ini dengan sikap pasrah dan “nerima ing pandum, sak derma ngelakoni”, pasrah, menerima nasib untuk menjalani takdir.

Pandangan yang lebih progresif percaya bahwa manusia diberi kemampuan akal untuk melakukan ikhtiar dan menentukan nasibnya sendiri, pada akhirnya tidak akan ada yang bisa mengubah nasib kalau manusia tidak mengubahnya sendiri. Pandangan teologi Qadariyah ini percaya bahwa manusia mempunyai kontrol terhadap nasibnya sendiri. Karena itu, menjalankan prokes adalah bagian dari ikhtiar. Tidak berkerumun dalam beribadah pun bagian dari ikhtiar.

WASPADA GELOMBANG III & IV PENULARAN

Dunia masih ngeri oleh ancaman virus yang terus bermutasi dan menular dengan lebih ganas. Meskipun berbagai jenis vaksin sudah ditemukan dan proses vaksinasi sudah mulai berlangsung tapi Indonesia sudah diingatkan akan kemungkinan munculnya  gelombang penularan ketiga, the third wave. Sangat mungkin penularan gelombang ketiga terjadi pada Lebaran kali ini.

Di beberapa negara malah sudah bersiap-siap untuk mengantisipasi gelombang penularan keempat. Di Jerman, Kanselor Angela Markel Minggu (18/4) mengikuti misa nasional memeringati 80 ribu orang yang meninggal akibat pandemi. Beberapa negara Eropa sudah melakukan pembatasan ketat untuk mengantisipasi kemunculan gelombang keempat.

Jepang, yang selama ini relatif lebih tenang, sekarang mulai panik karena gelombang keempat, yang diperkirakan datang pada pertengahan Mei, akan merusak program recovery ekonomi yang sedang dipersiapkan. Seharusnya pada Mei ekonomi diprediksi mulai menggeliat bersamaan dengan musim libur nasional. Tapi ancaman gelombang keempat bisa merusak semua prediksi itu, dan recovery ekonomi bisa berantakan.

mudik-covid.jpgDESAIN: carvaganza.com

Ancaman yang sama juga terjadi di Amerika Serikat dan Amerika Selatan, seperti Chile dan Brazil. Beberapa negara di Asia juga mengalami peningkatan penularan yang tinggi. Di India terjadi peningkatan tajam dalam pekan ini, begitu juga di Filipina dan Papua Nugini.

Peningkatan penularan terjadi disebabkan beberapa hal, terutama karena virus yang bermutasi dengan cepat dengan kemampuan penularan yang lebih tinggi. Selain itu, varian virus baru itu lebih sulit dideteksi dengan berbagai tes konvensional yang selama ini sudah dipakai.

Proses vaksinasi yang sedang berlangsung di seluruh dunia untuk mencapai herd immunity akan muspra kalau disiplin masyarakat kendor dan sikap fatalistis masih meluas. Di sisi lain proses vaksinasi membuat masyarakat semakin pede dan lebih berani meninggalkan rumah untuk beraktivitas.

Di Indonesia hal ini terlihat dari aktivitas moda transportasi umum, terutama online, yang dalam sebulan terakhir menunjukkan tanda-tanda recovery. Efek vaksinasi mungkin bisa membuat masyarakat mengalami euforia. Setelah hampir dua tahun terkungkung dan terkurung, rasanya sekarang sudah hampir bebas lepas.

Bersamaan dengan euforia vaksinasi muncul momen Lebaran yang selalu disambut dengan euforia nasional setiap tahun. Bertemunya dua euforia ini akan menyebabkan munculnya mobilitas massa yang besar. Momen libur lebaran kali ini bisa menimbulkan ledakan mobilitas yang sulit dikendalikan. Larangan mudik diakali dengan mudik curi start.

Pendekatan formal lewat peraturan larangan mudik penting dilakukan. Tapi, pendekatan budaya dan teologis juga harus dilakukan untuk memberi kesadaran kepada masyarakat. Peraturan seketat apapun akan bisa diakali kalau tidak ada kesadaran dan disiplin.

Maling mungkin tetap lebih pintar daripada polisi. Selalu saja ada cara untuk mengakali peraturan. (*)


Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :