KANALPojok Analisis

Vaksin Nusantara vs Vaksin Nyi Blorong

Vaksin Nusantara vs Vaksin Nyi Blorong
Presiden RI pertama Bung Karno -- sapaan akrab Ir Soekarno -- mengatakan: "Pasca Perang Dunia II secara formal kolonialisme-imperialisme berakhir. Tapi dalam praktiknya politik penjajahan tetap bercokol dalam bentuk baru, yaitu dominasi dan hegemoni. (FOT

COWASJP.COM – Bung Karno jago retorika, orator ulung yang piawai menemukan jargon-jargon yang bisa membakar semangat nasionalisme dan revolusi. Ia menyebut penjajahan kolonialisme dan imperialisme sebagai “Nekolim” dan menyamakannya dengan Nyi Blorong, ular pesugihan dalam tradisi mistis Jawa, yang terlihat cantik, tapi jahat dan rakus, memakan apa saja di sekelilingnya.

Nekolim, akronim dari neokolonialisme-imperialisme yang, ideologi politik Eropa yang  bertujuan membangun dominasi sistem politik suatu negara atas negara lain melalui penjajahan kolonialisme dan imperialisme. Setelah negara-negara jajahan merdeka pasca-Perang Dunia Kedua, secara formal kolonialisme-imperialisme berakhir. Tapi, dalam praktiknya politik penjajahan masih tetap bercokol dalam bentuk baru, yaitu dominasi dan hegemoni. Karena itu Bung Karno menyebutnya Nekolim, neokolonislisme-imperialisme yang dianggap sebagai musuh utama revolusi Indonesia.

Nekolim bukanlah lagi berbentuk kolonialisme atau penjajahan yang penuh kekerasan dan penderitaan karena kekerasan dan kekuatan senjata. Namun, Nekolim adalah bentuk penjajahan yang laten, nyaris tidak tampak secara fisik. Secara tidak sadar, negara-negara yang terjajah oleh kekuatan Nekolim akan mengalami ketergantungan terutama dalam bidang ekonomi. Penjajahan baru ini jauh lebih berbahaya karena menyusup melakukan penetrasi melalui ideologi. Nekolim punya agen-agen dari kalangan pribumi yang menjadi komprador asing, bekerja untuk kepentingan asing untuk mencari keuntungan pribadi.

Bung Karno mungkin oleh sebagian orang dianggap parno atau xenophobic, benci kepada asing berlebihan. Tapi buktinya sekarang, lebih setengah abad kemudian, kekuatan Nekolim masih tetap bercokol dan tumbuh semakin kuat. Nekolim sekarang bermetamorfosis menjadi Neolib, neo-liberalisme, yang sama jahat dengan nekolim. Neolib adalah mazhab ekonomi yang bertumpu kepada pasar bebas dan persaingan terbuka tanpa campur tangan pemerintah. Semua negara harus terbuka untuk menerima aliran investasi dan produk dari mana pun tanpa boleh ada proteksi dari negara. Neoliberalisme sekarang membonceng kepada globalisasi yang mensyaratkan semua negara untuk membuka pintu seluas-luasnya bagi persaingan bebas. Kalau saja Bung Karno masih hidup ia akan menyebut Neolib sebagai Neo-nekolim dan mungkin menyebutnya sebagai Nyi Blorong Milenial.

Perang Vaksin Nusantara melawan vaksin asing buatan luar negeri yang sekarang lagi heboh, adalah salah satu contoh perang antara nasionalisme melawan Nekolim dan Neolib. Tarik-menarik yang keras antara “ploduk-ploduk” Indonesia melawan produk asing.

Sekarang ini sudah ada dua vaksin produk neolib yang masuk ke Indonesia, yaitu vaksin Sinovac buatan China, dan vaksin Astra-Zeneca buatan Inggris. Selain itu sudah antre vaksin produk Pfizer-Moderna buatan Amerika Serikat.

Vaksin Nusantara buatan mantan menteri kesehatan Terawan Agus Putranto ini tidak kalah hebat dari vaksin neolib, malah dalam banyak hal lebih bagus dari produk asing.

Vaksin Nusantara diproduksi berbasis sel dendritik ini digagas pada akhir 2020, ketika Terawan Agus Putranto masih menjabat menteri kesehatan. Dari sisi teknologi, penggunaan sel dendritik memungkinkan vaksin ini diproduksi secara personalized disesuaikan kondisi tiap pasien. Karenanya, vaksin ini cocok diberikan pada individu dengan penyakit komorbid yang tidak bisa mendapatkan vaksin biasa.

Vaksin ini beda dengan vaksin neolib yang dibuat massal tanpa melihat perbedaan satu orang dengan lainnya. Sebagaimana produk-produk lain dari ekonomi neolib, semua orang dianggap sama dan diseragamkan seleranya. Kalau orang Barat makan burger, semua orang di seluruh dunia harus makan burger. Kalau di Barat memakai jeans seluruh dunia harus memakainya. Prinsip produksi masal ekonomi neolib adalah penyeragaman, one fits all, satu produk cocok untuk semua, tidak peduli makanan, pakaian, dan obat-obatan, pokoknya satu produk harus dipasarkan ke seluruh dunia.

Itulah yang dihadapi Vaksin Nusantara sekarang ini. Vaksin lokal yang dibuat sesuai dengan kondisi perorangan masyarakat Indonesia dihambat dengan berbagai alasan karena akan membahayakan keberadaan vaksin neolib.

Sampai sekarang BPOM, Badan Pengawas Obat dan Makanan, tidak mengeluarkan izin uji klinis tahap kedua terhadap Vaksin Nusantara, alasannya banyak muncul kejadian tidak diinginkan pada diri penerima vaksin. Bandingkan dengan vaksin buatan China yang hasil uji klinisnya belum keluar tapi sudah langsung disuntikkan kepada Presiden Jokowi dan kemudian secara masal dilakukan vaksinasi nasional.

Sebelum hasil uji klinis di Bandung dipublikasikan kepada masyarakat jutaan unit vaksin China sudah didatangkan. Berbagai efek akibat pemakaian vaksin itu banyak terjadi, tapi vaksinasi masal jalan terus.

Vaksin Astra Zenica pun mendapatkan perlakuan super-istimewa. Laporan dari banyak negara menyebutkan terjadinya pengentalan darah terhadap beberapa pasien setelah penyuntikan. Hal itu diabaikan karena dianggap kasuistis. Tapi yang lebih ajaib adalah vaksin ini jelas-jelas haram menurut MUI, Majelis Ulama Indonesia, tapi toh para ahli fatwa di MUI bisa menemukan dalil untuk menghalalkannya karena alasan darurat. Kalau ada produk dalam negeri yang lebih murah dan jelas-jelas halal mengapa pakai produk asing yang lebih mahal dan haram, itu pertanyaan besarnya.

Siti.jpgMantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari. (FOTO: Liputan6.com/ Helmi Fithriansyah)

Kejanggalan ini memunculkan perlawanan terbuka. Dr Terawan tetap melanjutkan praktik vaksinasi di RSPAD Gatot Subroto dan banyak tokoh nasional yang hadir untuk menjadi relawan. Ada Jenderal Gatot Nurmantyo, Sudi Silalahi, Aburizal Bakrie, mantan menteri kesehatan Siti Fadilah Supari, anggota DPR Sufmi Dasco Ahmad bersama sejumlah koleganya anggota DPR RI. Ini adalah perlawanan simbolis untuk memberi pesan kepada negara supaya hadir.

Kemunculan Siti Fadilah Supari secara simbolik menunjukkan perlawanan terhadap dominasi vaksin neolib. Selama ini ia dikenal kritis terhadap proyek vaksinasi. Ketika menjadi menteri kesehatan di zaman SBY pada 2004 Siti Fadilah membuat geger karena mengungkap praktik jahat perdagangan vaksin flu burung yang merugikan Indonesia. Ketika itu Indonesia terserang kasus flu burung dan oleh WHO, Organisasi Kesehatan Dunia, diminta untuk melakukan riset vaksin. Setelah vaksin ditemukan, Indonesia tidak boleh memproduksinya dan diminta untuk menyerahkan ke WHO untuk diproduksi masal dan dijual kembali ke berbagai negara. Siti Fadilah memberontak terhadap kebijakan dan membongkar praktik eksploitatif imperialisme modern ini.

Dalam bukunya “Saatnya Dunia Berubah” (2007), Siti Fadilah mengungkapkan praktik kongkalikong WHO dengan perusahaan-perusahaan farmasi raksasa Eropa untuk menangguk untung dari pandemi flu burung ketika itu. Siti Fadilah menegaskan bahwa Indonesia bisa memproduksi sendiri vaksin flu burung tanpa harus mengimpor vaksin produk neolib. Sikap kritis itu harus dibayar mahal oleh Fadilah, setelah pensiun ia dihukum empat tahun penjara atas tuduhan korupsi alat kesehatan.

TAK HANYA SITI FADILAH

Bukan hanya Siti Fadilah yang membongkar borok WHO yang berkomplot dengan perusahaan farmasi trans-nasional. Ekonom Amerika Serikat pemenang Nobel, Joseph E. Stiglitz mengritik keras dalam bukunya “Making Globalization Work” (2002). Menurutnya, globalisasi adalah kepanjangan tangan ekonomi neoliberal yang melakukan eksploitasi menyedot kekayaan negara dunia ketiga untuk keuntungan Amerika dan kroninya.

Stiglitz membeber berbagai ketimpangan hubungan ekonomi dan perdagangan yang eksploitatif, termasuk dalam perdagangan obat-obatan. Stiglitz memberi contoh soal penanggulangan penyakit AIDS yang menjadi penyakit paling mematikan di Afrika sekarang ini. Di wilayah Gurun Sahara Afrika dua puluh persen penduduk menderita AIDS. Sampai sekarang penyakit itu tidak bisa diberantas dan selalu disebut belum ada obat yang ditemukan untuk menyembuhkannya.

Joseph.jpgJoseph Eugene Stiglitz (lahir 9 Februari 1943) adalah ekonomi dan penulis buku yang meraih John Bates Clark Medal pada 1979 dan Nobel Memorial Prize in Economics pada 2001. (FOTO: en.m.wikiquote.org)

Kenyataannya, perusahaan farmasi Barat sudah lama menemukan obatnya, tapi sampai sekarang harganya tetap dibuat mahal sehingga tidak terjangkau oleh warga Afrika yang miskin. WHO yang harusnya bisa membantu ternyata tidak bisa berbuat banyak.

Kasus Covid 19 ini bisa menjadi lahan eksploitasi seperti kasus AIDS, dan bahkan bisa lebih parah lagi karena kali ini China dan Barat bersama-sama mengeksploitasi pandemi ini untuk mendapatkan keuntungan ekonomi.

Ketika Donald Trump masih menjadi presiden Amerika Serikat ia menarik diri dari keanggotaan WHO karena menganggapnya sebagai antek China. Tedros Adhanom Ghebreyesus dari Etiopia terpilih menjadi pemimpin WHO atas sponsor China. Etiopia sendiri disebut sebagai China Afrika karena dekatnya hubungan kedua negara. Amerika kecewa karena WHO dianggap lebih berpihak dan melindungi kepentingan China dalam penanganan dan pengusutan pandemi ini.

Indonesia juga mempunyai kedekatan khusus dengan China. Masuknya vaksin Sinovac yang mulus ke Indonesia adalah berkat hubungan akrab itu. Masuknya vaksin Eropa yang lancar jaya menunjukkan bahwa rezim ekonomi Nyi Blorong tengah berkuasa di Indonesia.

Vaksin Nusantara “ploduk-ploduk Indonesia” kali ini diuji keampuhannya menghadapi vaksin Nyi Blorong buatan negara-negara neolib. (*)


Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :