KANALPojok Features

Suara Suara Malam Di Kuburan Cina

Suara Suara Malam Di Kuburan Cina
Kampung Banyu Urip di Surabaya sudah tidak ada makam lagi. Full rumah dan toko. Kini para warganya siaga mencegah pandemi Covid-19. (FOTO: JawaPos.com)

COWASJP.COM – Hari Minggu lalu, tak seorang bocah pun yang tinggal di kawasan Banyu Urip bersuka ria. Mereka tak lagi rame-rame membawa buah-buahan dan bunga. Meski mereka tahu, buah buahan dan bunga itu bukan punya orang tua mereka. Itu milik tuan dan nyonya. Tuan dan nyonya warga Tionghoa yang hari itu sedang merayakan hari raya Cing Bing. 

Hari itu awal tahun 1950-an memang beda dengan Cing Bing minggu lalu 2021. Bocah bocahnya sudah berbeda suka rianya. Mereka lebih asyik bermain game di HP sambil menyantap bakso dan sosis. 

Sungguh tak bisa dipungkiri sekitar 65 tahun lalu anak-anak di sekitar Banyu Urip di saat Cing Bing, disibukkan dengan acara membantu tuan tuan dan nyonya warga Tionghoa bersama keluarganya yang hari itu penuh dengan bawaannya.

koesnan-sudah-berubah-2.jpgJalan Banyu Urip Kidul 2 Surabaya. (FOTO: mapio.net)

Memang, dengan membantu tuan tuan dan nyonya nyonya yang akan berkumpul di Makam Banyu Urip, anak anak mengharap pemberian uang jajan sekadarnya. Tapi tak jarang mereka menerima uang yang cukup berlebih. Itu semua diterimanya sebagai tanda terima kasih setelah membantu bersih bersih kuburan. 

" Ya..itu dulu. Ya sekitar 65 atau 70 tahun lalu. Ketika di sekitar daerah sini masih banyak Kuburan Cina", kenang Sumaji ( 77). 

Tapi, kata Sumaji lagi,  sebenarnya sejak tahun 1940 di daerah Banyu Urip dan sekitarnya sudah tidak ada lagi acara pemakaman orang orang Tionghoa.  "Daerah sekitar Banyu Urip Wetan sampai Banyu Urip Jaya yang luasnya sekitar 400 hektar, sejak pertengahan tahun 1960 an sudah banyak yang berubah. Dari kuburan jadi rumah", kata Sumaji yang sejak lahir hingga kini tinggal di Banyu Urip Wetan Gang 4 ini.

Masih kata Sumaji, dia masih ingat di tahun tahun 1950 an kakek empat orang cucu ini sering membantu tuan dan nyonya untuk menemani dan membantu membersihkan kuburan. 

kuburan.jpgKompleks tua Kuburan Cina di daerah Kembang Kuning Kulon Surabaya. (FOTO: Koesnan Soekandar)

Tapi sejak awal tahun 1970 an sudah tidak ada yang mengunjungi kuburan. Kuburannya sudah terkikis. Sudah tergusur rumah. 

Tapi di balik itu semua,  tergusurnya Kuburan Cina di daerah Banyu Urip ini ternyata menyisakan misteri yang membuat bulu kuduk berdiri. Hem.. sekitar 50 tahun lalu. Isu menyeramkan bertebaran. Mulai dari terdengarnya: Suara suara jika malam sampai suara tulang beradu tulang. Seram memang. 

" Ah...itu khan katanya orang orang. Saya di sini sudah puluhan tahun dari dulu sampai sekarang gak mendengar suara apa apa kalau malam. Apa mungkin saya budeg ya...he...he...he, " ujar Sumaji tergelak.

Tapi diakuinya, dulu awal awal tahun 1950 ketika di Banyu Urip masih banyak Kuburan Cina dia jarang bermain ke luar rumah jika malam. " Ya. Takut. Namanya anak anak", tukasnya.

koesnan-sudah-berubah-3.jpg

Ketakutan Sumaji tak bisa diolok olok, karena ketakutan itu juga pernah terjadi pada salah seorang warga Kembang Kuning. "Ketika itu kira kira awal tahun 1970 an saya pernah mendengar ada orang beli lemari buatan orang dari Banyu Urip. Aduh...ini bikin dia terbirit birit. Takut..he menyeramkan", ujarnya.

Menurut lelaki berjenggot ini, ketakutan pembeli lemari bersama keluarga ini tak bisa dibendung. Betapa tersiksanya dia. Ternyata jika malam menjelang, ada suara seperti suara tulang beradu. Tepat di dalam lemari. 

Setelah genap tiga hari, dengan ketakutan  dia kembalikan lemari itu.pada penjualnya. "Ternyata penjualnya tukang kayu yang membuat lemari dari bekas peti jenazah yang terkubur sekitar 100 tahun di Pekuburan Cina. He...serem. sungguh menakutkan " katanya.

kuburan1.jpg

Semua cerita itu diakui  Sumaji, dia  pernah  mendengar. "Tapi yang pasti sejak 40 tahun yang lalu sudah tidak ada lagi cerita cerita seram itu. Khan sejak 75 tahun lalu sudah tidak ada acara pemakaman di Banyu Urip. Mulai gang satu sampai gang lima sudah ndak ada. Juga di Banyu Urip Jaya sudah tidak lagi acara pemakaman. Yang ada  ya di Makam Kembang Kuning", ujarnya. 

Benar...apa yang dikatakan Sumaji: Banyu Urip Wetan dan Banyu Urip Jaya sudah tidak ada lagi sebidang tanah kuburan. Semua telah berubah. Yang ada toko serba ada, toko HP, servis motor dan lain lain. Zaman memang berubah. " Jangan berpikiran Banyu Urip dulu. Sekarang rumah di Banyu Urip sudah banyak yang bersertifikat hak milik", ujar Sumaji. Hem...Sertifikat ! (*)


Pewarta : Koesnan Soekandar
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :