KANALPojok Analisis

Mosi Integral Natsir

Mosi Integral Natsir
Dr Mohammad Natsir, penggagas mosi integral kala Indonesia "terpecah" jadi negara-negara bagian di masa RIS (Republik Indonesia Serikat). Jangan coba-coba RIS lagi. (FOTO: ahad.co.id)

COWASJP.COM – MESKIPUN peringatannya sudah berlangsung beberapa hari lalu, entah mengapa saya masih terdorong untuk menulis tentang hal ini. Mosi Integral Natsir. Yang mestinya jadi perekat bagi kebersamaan kita. Bagi persatuan dan kesatuan seluruh anak bangsa. Ketika kondisi kehidupan politik kita sudah menurun begitu jauh. 

Saya menulis tentang hal ini bukan karena saya pernah bekerja selama 10 tahun bersama Dr. Mohammad Natsir. Sang penggagas mosi integral itu. Di bawah naungan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Pusat di jl. Kramat Raya 45 Jakarta. Tapi benar-benar karena melihat melorotnya rasa persatuan dan kesatuan kita. 

Tentu saja, kalangan milenial bisa jadi merasa asing dengan istilah “Mosi Integral Natsir”. Mereka mungkin tidak paham apa yang disebut dengan mosi integral itu. Walaupun mereka sering mendengar teriakan NKRI Harga Mati, Saya Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan sebagainya. 

Mosi integral adalah upaya seorang tokoh muslim terkemuka, Dr. Mohammad Natsir. Dia adalah Ketua Umum Partai Majelis Syura Muslimin (Masyumi). Partai pemenang pemilu pertama 1955. Dengan gagasan mosi integral itu, Natsir telah mempersatukan kembali negara-negara bagian yang terpecah-pecah. Pemerintah kolonial memang sengaja membentuk Pemerintahan Nasional Federal Sementara. Tujuannya tentu saja agar bangsa ini jangan pernah bersatu. Sesuai dengan taktik dan strategi penjajahannya yang terkenal dengan sebutan “divide et  impera”. Artinya, pecah belah lalu kuasai. 

Untuk menghadapi situasi dan kondisi bangsa yang carut marut, Natsir punya gagasan untuk mempersatukan negara-negara bagian yang terpecah-pecah itu. Dan tepat tanggal 3 April 1950, para anggota DPR di era pemerintahan Republik Indonesia Serikat (RIS) menerima dengan suara bulat gagasan tokoh nasional itu. Yang tidak lain adalah juga seorang ulama terpandang. 

Melalui Mosi Integralnya, Mohammad Natsir mengajak semua pemimpin negara-negara bagian yang terpisah-pisah itu untuk bersatu. Membubarkan diri secara damai. Dengan sukarela dan atas kesediaan dan kesadaran sendiri-sendiri. Lalu bersama-sama mendirikan NKRI melalui prosedur parlementer. 

Lima belas negara bagian bikinan penguasa Belanda Van Mook merupakan negara-negara boneka. Yang dimaksudkan agar tetap dapat dikendalikan Belanda. Yaitu Negara Dayak Besar, Negara Indonesia Timur, Negara Borneo Tenggara, Negara Borneo Timur, Negara Borneo Barat, Negara Bengkulu, Negara Biliton, Negara Riau, Negara Sumatera Timur, Negara Banjar, Negara Madura, Negara Pasundan, Negara Sumatera Selatan, Negara Jawa Timur, dan Negara Jawa Tengah. 

Dengan diterima dan ditandatanganinya mosi integral itu oleh seluruh anggota parlemen Republik Indonesia Serikat (RIS), terbentuklah sebuah negara yang besar. Terdiri atas ribuan pulau. Yang sekarang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Dihuni oleh aneka ragam suku. Dengan ratusan tradisi dan bahasa. Yang bersatu dalam semboyan “bhineka tunggal ika”.  Berbeda-beda namun tetap satu. 

Apa Pentingnya?

Setelah 71 tahun mosi integral itu dicetuskan, tentu kita perlu memahami makna dari persatuan dan kesatuan yang dicita-citakan para founding fathers kita. Setelah sekian lama, anak bangsa perlu memperbaharui kembali pemahamannya. Terutama soal “apa pentingnya persatuan dan kesatuan itu”. Termasuk bagaimana memahami Bhineka Tunggal Ika dalam konteks kekinian dan masa depan. 

Tentu saja, kalau dilihat dari sejarah panjang republik ini, para founding fathers bercita-cita mendirikan sebuah negara yang besar dan kuat. Negara yang kaya dan mampu menciptakan kesejahteraan bagi seluruh tumpah darah bangsa. Yang bersatu dalam konsep kebersamaan. Untuk kemajuan dan kejayaan bersama. Yang dalam ajaran Islam disebut “baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur”. Negara yang gemah ripah loh jinawi. Di mana seluruh jiwa yang hidup di dalamnya mendapatkan pengampunan dari Allah Swt. 

Sesuatu yang bukan mustahil untuk digapai bangsa ini. Yang hidup menghuni ribuan pulau. Di atas tanah yang subur. Sehingga tongkat kayu bisa jadi tanaman. Dilingkari oleh lautan laut yang luas membentang. Dengan bibir pantai yang salah satu terpanjang di dunia. Di dalam perut bumi ibu pertiwi ini tersimpan begitu banyak harta kekayaan yang melimpah. Mulai dari emas sampai batu pertama. Sebagai anugerah AllahYang Maha Kuasa dan Pemurah. 

Harta benda yang tidak dimiliki oleh banyak negara lain. Yang mendorong para penjajah asing untuk datang ke sini. Untuk merasakan hidup yang nyaman di sebuah tanah surgawi yang tak mengenal musim. Bandingkanlah, betapa enaknya hidup di negeri ini dengan negara-negara yang mengalami musim dingin. Yang suhunya bisa mencapai minus 40 derajat celsius. Begitu juga negara-negara yang memiliki musim panas seperti di Afrika dan Timur Tengah. Dengan suhu di atas 40 derajat celsius. Di negeri ini, siapa pun bisa bertelanjang dada ke sana kemari. Tanpa takut kedinginan dan kepanasan. 

Sayangnya, tahun-tahun belakangan ini kita mengalami kemunduran luar biasa dalam konsep Bhineka Tunggal Ika itu. Tak dapat dipungkiri, konsep demokrasi yang dijalankan sekarang seolah sudah tercerabut dari akarnya yang paling dalam. Karena persatuan dan kesatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) hanya dijadikan lip service semata. Birahi untuk menggenggam kekuasaaan secara terus menerus dipertuhankan begitu rupa. Sehingga konsep persatuan dan kesatuan itu dengan mudah hilang bak disapu angin. Cita-cita untuk sejahtera bersama telah ditenggelamkan oleh keserakahan untuk menang sendiri. Pancasila begitu diagung-agungkan. Tapi giliran pengamalan dari butir-butir ajarannya diabaikan begitu saja. 

NATSIR.jpgDESAIN: rafifamir.com

Mengapa demikian? Karena butir-butir Pancasila yang sangat sakral itu hanya dijadikan pemanis bibir saja. Ketika penggunaan politik belah bambu masih dibiarkan terus berlangsung. Yang satu diangkat, sedangkan sisi lainnya diinjak. Mana yang disebut dengan sila ketiga, yaitu Persatuan Indonesia? Kebijakan pemanfaatan buzer dan influencer yang mendukung pemerintah adalah bukti kasat mata prilaku penguasa berkenaan dengan politik belah bambu itu. Bisa saja pemerintah berdalih tidak menggunakan mereka. Tapi pembiaran dengan artian bahwa mereka tidak dilarang paling tidak juga membuktikan adanya kebijakan yang timpang itu. 

Sangat lucu kalau ada yang teriak-teriak “Saya Pancasila”, tanpa memahami butir-butir dalam dasar negara itu. Apalagi mengamalkannya dalam kehidupan nyata. Dalam keseharian seluruh anak bangsa. Sangat ajaib kalau ada yang berkoar-koar “NKRI Harga Mati”. Lalu menuding para ulama ingin memecah belah persatuan bangsa. Tanpa memahami akar sejarah bagaimana rantai persatuan dan kesatuan bangsa itu dulu dirajut. Mbok ya belajar lebih banyak. Agar bisa memahami siapa sejatinya yang punya gagasan agar bangsa ini bersatu dalam satu kesatuan negara yang besar dan kuat.

Sayangnya kenyataan yang kita hadapi sekarang sungguh jauh dari apa yang dicita-citakan itu. Kondisi bangsa ini benar-benar sudah terlanjur carut marut. Sehingga ada yang menilai, siapa pun yang memimpin negara ini kini dan di masa depan akan tetap sulit memperbaiki kehidupan seluruh bangsa. Karena situasi dan kondisi yang terbangun sudah amburadul begitu rupa. 

Kalau kita bicara persatuan dan kesatuan dalam bingkai NKRI, tentu tidak boleh tidak kita harus ingat betapa beratnya perjuangan para bapak bangsa ini merajut kesatuan dan persatuan itu. Di zaman dahulu. Ketika kita masih terpecah belah. Ketika begitu banyak negara bagian yang masih kuat mempertahankan egonya. Ketika begitu banyak kerajaan di seluruh nusantara yang masih gamang melepaskan sistem kerajaannya. Lalu bergabung dengan NKRI. Sementara ada kaum kolonial Belanda yang ingin tetap memecah belah. Untuk kepentingan kolonialismenya.

Sekarang, coba kita bandingkan dengan situasi yang tengah berlangsung. Siapa yang dapat membantah bahwa persatuan dan kesatuan itu sudah jadi barang langka kembali? Bukankah pelaksanaan sistem demokrasi liberal yang kebablasan telah membuat kita kembali terpecah? Paling tidak terpecah ke dalam dua golongan. Golongan cebong dan kampret. Yang entah sampai kapan akan dapat bersatu. Ketika penguasa juga tidak berminat untuk menautkan persatuannya.

Meskipun belum tampak jelas di permukaan, tapi ibarat api di dalam sekam, semangat permusuhan itu terus hidup. Antara yang mendukung pemerintah dan yang tidak disukai pemerintah. Dengan segenap pernak-perniknya. Dengan peristiwa demi peristiwa yang hari demi hari terus menyulut permusuhan itu. Dengan munculnya orang-orang yang justru memanfaatkan situasi dan kondisi ini untuk memenuhi keinginan jangka pendeknya. Dengan cara menjilat penguasa. Tanpa peduli bahwa persatuan dan kesatuan itu teramat penting. 

Kondisi yang mungkin akan membuat kita terpecah belah ke dalam negara yang lebih banyak lagi. Yang mempertahankan ego kesukuannya. Yang membanggakan ideologi  dan keagamaannya. Sementara penguasa sendiri seolah berada di sebuah menara gading yang tinggi. Jauh di awang-awang, sehingga sulit melihat ke bawah. Sehingga tidak tergoda untuk berbuat sesuatu. Agar kita tidak semakin terpecah belah. Dengan cara merangkul seluruh tumpah darah bangsa. Dengan perlakuan yang sama. Tanpa membeda-bedakan satu dengan yang lain. 

Saling Berangkulan

Rasanya sudah sangat mendesak semua pihak memikirkan bagaimana caranya agar kita saling berangkulan. Dengan prakarsa penguasa, sudah saatnya kita merajut kembali persautan dan kesatuan itu. Melupakan segala perbedaan yang ada. Menghapuskan sebutan cebong dan kampret dalam perbendaharaan kata kita. Meninggalkan untuk sementara langkah-langkah untuk mencapai kenikmatan sesaat. Yang hanya untuk memenuhi kepentingan jangka pendek. Dengan mengabaikan kepentingan jangka panjang seluruh tumpah darah bangsa. 

Bila kondisi seperti sekarang tetap dibiarkan, jangan salahkah bila semakin banyak orang berpikir: Buat apa negara besar seperti ini, kalau hanya untuk dinikmati segelintir elit yang buta mata hatinya? Jangan salahkan bila ada yang berpikir, betapa enaknya hidup seperti warga negara Brunei Darussalam. Negara kecil tapi kaya raya. Yang mengayomi seluruh tumpah darahnya. Yang dapat dengan mudahnya mengirim putera-putera terbaiknya untuk menuntut ilmu di perguruan tinggi-perguruan tinggi terbaik di Eropa dan Amerika. Dengan kehidupan penuh kemewahan bak di dalam surga. Ketika sebagian besar anak bangsa harus mengais-kais susah payah hanya untuk mendapatkan sesuap nasi. Dari pagi sampai malam hari. Yang harta kekayaannya yang berlimpah dibiarkan begitu saja dikuras oleh kalangan asing dan aseng. 

Hidup ini begitu singkat untuk dibiarkan tak berarti. Presiden Joko Wiidodo (Jokowi)  yang usianya sekarang sudah kepala lima, apakah akan sanggup bertahan hidup 50 tahun lagi? Sesuatu yang tidak mudah, tentu saja. Sudah saatnya presiden dan semua elit bangsa yang lain memikirkan legacy yang akan ditinggalkan. Setelah nanti tidak berkuasa lagi. (*)

Penulis: Nasmay L. Anas, wartawan senior dan pemerhati persoalan publik.


Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :