KANALPojok Analisis

Sepakbola Tradisi Alor

Sepakbola Tradisi Alor
Ali Mochtar Ngabalin. (FOTO: news.detik.com)

COWASJP.COM – SAHABAT saya, Pitan Daslani, MA. Mantan editor di harian the Jakarta Post. Meskipun akrab dengan sejumlah tokoh nasional yang muslim, termasuk di jajaran ICMI Pusat, tapi Pitan adalah seorang penganut Kristen yang taat. Sebab, setahu saya, dia tidak pernah absen ke gereja. Sesibuk apa pun dan semacet apa pun jalanan di Jakarta. 

Seperti biasa, kami sering “chatting” tentang banyak hal. Kemarin, kami bicara tentang aksi bom bunuh diri di depan gereja Katedral di Makassar. Begitu juga dengan berita-berita yang mengaitkan aksi pengeboman itu dengan ormas Efpiai dan persidangan kasus prokes Habe Ier Es yang sedang berlangsung. Persidangan yang unik dan penuh drama. Bahkan ada yang bilang, sangat tajam aroma politiknya.

Menurut pria kelahiran Alor NTT itu, banyak topik sekarang ini yang bagus bagi praktisi media untuk dijadikan bahan rapat viewers dan pelanggan.

“Betul,” jawab saya. “Mestinya ILeadersTV ambil peran jadi pemrakarsanya.” Dalam hal ini, Pitan adalah Pemred Majalah Ileaders dan media daring IleadersTV. Media yang dikelola bekerja sama dengan Tanri Abeng University (TAU). 

Tapi dengan cepat dia membalas, “Kita main di luar lapangan lebih aman.”

“Itu artinya kita penonton. Kalau pemain mesti di dalam lapangan,” jawab saya.

“Memang,” katanya. “Tapi anehnya di negeri kita kalau ada dua kesebelasan politik bertanding, seragam mereka ada 22 macam warnanya. Masing-masing punya kostum sendiri-sendiri. Dan wasitnya lebih banyak dari jumlah pemain.”

Saya lalu berseloroh, “Inilah negeri yang aneh bin ajaib. Karena seragamnya tidak jelas, maka penonton tidak diundang bisa saja terjun ke tengah lapangan. Lalu membuat gol.”

“Dulu di kampung saya,” cerita Pitan, “kalau ada 17-an, yang bertanding bukan 11 lawan 11 orang. Tapi jumlah pemainnya tak terbatas. Karena bola cuma satu dan semua orang pingin tahu seperti apa rasanya menendang bola kulit.” (Barangkali karena bola yang terbuat dari kulit itu masih merupakan barang langka.)

pelaku-bom.jpgFoto diduga pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar. (FOTO: tribunnews.com)

Tentu saja, kita dapat memahami, bahwa hal-hal seperti itu adalah pertanda keguyuban. Yang membuat semua orang senang. Dulu, seperti itulah yang terjadi di berbagai kelompok masyarakat di seluruh nusantara. Tapi sekarang jauh berbeda. Suasana yang terbangun sekarang adalah suasana dimana orang saling curiga.

Sahabat saya itu melanjutkan ceritanya. “Jadi suatu ketika paman saya ikut bermain. Lalu dia protes ke wasit yang dianggapnya memihak lawannya. Karena marah dia lalu membawa kabur bolanya. Akibatnya, pertandingan final itu batal dilanjutkan. Dan baru diadakan lagi sebulan kemudian. Karena bolanya dia bakar. Padahal untuk satu kabupaten Alor waktu itu hanya ada satu buah bola. Sehingga semua orang terpaksa harus tunggu kapal polisi datang dari Surabaya. Yang membawa bola baru. Sehingga permainan baru dilanjutkan kembali.” 

Alor adalah sebuah kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT). Daerah ini berbentuk kepulauan.  Dengan ibukota Kalabahi, kabupaten ini memiliki luas 2.928,88 km persegi. Penduduknya berjumlah sekitar 217.691 jiwa.

Walaupun ada yang membawa kabur bola bahkan membakarnya, ternyata semua orang senang. Tidak ada yang sakit hati. Semua malah ketawa. Pulang ke rumah masing-masing dengan damai. Buktinya setelah bola yang baru datang, barulah permainan dilanjutkan lagi. Dengan pemain satu kampung. Semua penonton ikut jadi pemain. 

“Suasana seperti itulah yang mestinya kita rindukan sekarang,” pungkas saya. 

Dulu, masyarakat tidak punya uang, tapi hati mereka senang. Penuh persahabatan. Semua persoalan yang muncul dicarikan solusinya bersama-sama. Dengan kepala dingin. Dengan  menjunjung tinggi nilai-nilai persahabatan dan persaudaraan.

Cadi Penonton Cerdas

Sekarang persahabatan itu sepertinya sudah jadi benda aneh. Banyak yang punya kuasa, tapi tak ada kemauan untuk membela yang lemah. Banyak bermunculan orang kaya, tapi tak sudi berbagi dengan yang lain. Karena masing-masing orang punya keinginan sendiri-sendiri yang saling bertabrakan. Punya agenda sendiri-sendiri tanpa mempedulikan kepentingan pihak  lain. 

Karena itu, kami mengambil kesimpulan. Dalam sejumlah kejadian akhir-akhir ini, kita harus jadi penonton yang cerdas. 

Aksi pengeboman bunuh diri yang dituduhkan kepada muslim sebagai pelakunya tak pelak tentu menimbulkan kemarahan penganut Kristen. Yang tiada angin tiada hujan tiba-tiba tempat ibadahnya diserang. 

alor.jpgTampak dari atas Kalabahi, ibukota Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. (FOTO: wikipedia.org)

Sebagian orang bisa saja beranggapan bahwa ini adalah bagian dari upaya adu domba. Yang oleh masing-masing pihak mestinya disadari kebenarannya. Sehingga masing-masing orang harus mawas diri. Dan setiap orang juga wajib menahan diri.

Sesama muslim saja diadu domba. Apalagi dengan penganut agama lain. Tanpa sadar umat Islam diadu domba dengan perbedaan mazhab dan cara ibadah. Dengan masalah-masalah furu’ alias cabang yang tidak penting. Sementara dengan penganut agama lain diadu domba dengan bom di tempat-tempat ibadah. 

Menyusul berita pengeboman bunuh diri di Makassar itu, muncul pula berita tentang pernyataan Ali Mukhtar Ngabalin. Ketika Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Kepresidenan itu berkicau lewat media sosial Twitter. Dikatakannya, “Terdapat berbagai hal yang menjadi kontribusi nyata terhadap sepak terjang terorisme di Indonesia. Di antaranya, ulah para penceramah jadi-jadian yang bau tanah.” 

“Makin ramai sekarang. Menjelang putusan sidang  Habe Ier Es,” tulis Pitan menanggapi pernyataan Ngabalin itu. 

Sebagai seorang Nasrani, saya tahu, Pitan terpengaruh oleh sikap kebanyakan kaum Nasrani tentang banyak hal yang terjadi di bumi Nusantara ini. Tidak mudah menghindar dari keberpihakan hati yang paling dalam. Termasuk dalam masalah politik dan sosial kemasyarakatan. Sebagaimana saya sendiri tidak menolak bahwa sebagai seorang muslim, pikiran saya juga banyak terpengaruh oleh sikap dan pandangan kaum muslimin. Sesuatu yang normal dan lumrah sekali. 

Saya ingin mengingatkan bagaimana cepatnya pihak kepolisian memproses kasus bom bunuh diri itu. Tidak butuh waktu lama, polisi sudah mengetahui siapa pelakunya. Apa pula latar belakangnya. Bahkan keluarganya. Dan last but not least, betapa cepatnya Ali Mukhtar Ngabalin berhasil mengambil kesimpulan. Dengan menuding mereka yang dia sebut penceramah jadi-jadian yang bau tanah. Yang mampu memberikan kontribusi, agar ada orang yang mau melakukan aksi bom bunuh diri. Mencelakakan dirinya sendiri dan orang lain. Tanpa memahami tujuan yang sesungguhnya dari tindakan nekad yang dia lakukan itu. Sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agama mana pun di muka bumi ini. 

Sementara itu, begitu banyak kasus di republik ini yang tidak terselesaikan sampai tuntas. Laporan masyarakat kepada pihak berwajib berkenaan dengan kasus Abu Janda, misalnya. Yang diduga mengeluarkan pernyataan berbau SARA terhadap mantan aktifis hak asasi manusia asal Papua, Natalius Pigai. Meski dinyatakan bahwa penyelidikan kasus ini masih berlanjut, namun tidak jelas bagaimana kelanjutannya. 

Begitu juga laporan masyarakat dalam kasus Deny Siregar, Ade Armando dan lain-lain yang selalu berseberangan dengan aspirasi umat Islam di negeri ini. Pihak berwajib sepertinya mentok. Tidak jelas apakah terus diproses atau tidak. Bahkan terhadap kasus dugaan unlawfull killing terhadap 6 lasykar Efpiai di Km 50 Tol Jakarta-Cikampek. Sejauh ini, disebut-sebut ada 3 terlapor pelaku. Tapi sampai sekarang namanya pun belum diungkapkan secara transparan. 

Sejumlah peristiwa sekarang seperti muncul silih berganti. Masih dalam hitungan hari setelah serangan bom bunuh diri di depan Katedral di Makassar, terjadi lagi serangan ke Mabes Polri di Jl. Trunojoyo Jakarta. Oleh seorang wanita muda yang bersenjatakan soft gun. Yang langsung ditembak mati oleh pihak kepolisian. Di saat yang sama, proses persidangan Habe Ier Es masih berlangsung. Dan masalah dugaan adanya unlawfull killing terhadap 6 lasykar Efpiai juga masih menggantung. Entah sampai kapan, persoalan demi persoalan itu terus datang silih berganti. 

Setiap persoalan sekarang justru melahirkan pertanyaan besar di benak publik. Yang melahirkan suasana yang tidak nyaman. Termasuk ketika Presiden Jokowi meminta agar pemerintahannya dikritik. Permintaan yang melahirkan pertanyaan sementara kalangan: Apakah yang mengkritik tidak akan ditangkap?

Sebagian orang mengatakan bahwa suasana politik dan penegakan hukum belakangan ini malah membuat orang takut mengkritik. Mantan Menkoekuin dari partai penguasa PDI Perjuangan, Kwik Kian Gie, misalnya.  Yang mengaku takut menyampaikan pendapat berbeda atau berlawanan dengan pemerintah saat ini. Kwik khawatir, usai mengemukakan pendapat berbeda dengan rezim akan langsung diserang buzzer di media sosial.

Menurutnya, pendapat berbeda yang diutarakan bukan untuk menyerang, melainkan memberi masukan alternatif yang mungkin bisa digunakan. Meski demikian, Kwik ⁴⁴mengatakan, "Saya belum pernah setakut saat ini mengemukakan pendapat yang berbeda, dengan maksud baik memberikan alternatif.  (Sebab) Langsung saja di-buzzer habis-habisan. Masalah pribadi diodal-adil.” 

Masalah buzer dan influencer sudah seperti duri dalam daging. Tapi sejauh ini masih tetap dipelihara. Bahkan anggaran puluhan milyar untuk  membiayai para pendengung pemerintah itu sempat beredar luas di masyarakat. Sementara itu penggunaan Undang-undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) juga banyak disorot. Bahkan telah memakan banyak korban. Yang juga membuat orang semakin takut menyampaikan kritik. 

Bila diibaratkan permainan bola, semestinya pemerintah adalah wasit. Sebagai wasit, mestinya yang mendukung maupun yang mengkritik diperlakukan sama. Sayangnya apa yang diharapkan itu tidak pernah jadi kenyataan. Sebab wasit selalu memihak. Pemain tidak pernah diperlakukan sama dan sebangun.

Karenanya, benarlah pilihan sementara orang seperti diungkapkan Pitan: “Jadi penonton lebih aman”. 

Sebab memang tidak mungkin ada permainan seperti yang dilakukan masyarakat Alor. Bermain dengan suka cita dan penuh kedamaian. Yang membuat semua orang riang gembira. Tanpa ada orang yang dibuat takut. Bahkan siapa pun dapat membuat gol. Tak peduli apakah dia pemain atau hanya sekadar penonton. Tanpa perlu merasa takut akan menghadapi sanksi yang berat.(*)

Nasmay L. Anas, wartawan senior di Bandung


Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :