KANALPojok Features

Berkah Bulan Ramadhan (3)

Sejak Kapan Jama'ah Boleh Mengenakan Sandal atau Sepatu di Area Masjidil Haram?

Sejak Kapan Jama'ah Boleh Mengenakan Sandal atau Sepatu di Area Masjidil Haram?
Selesai umroh pertama. (FOTO: Ita Lizamia)

COWASJP.COM – Perjalanan dengan menggunakan bus dari Bandara King Abdul Aziz Jeddah menuju Tanah Haram Mekkah sangatlah menyejukkan mata. Tata kota yang rapi, cahaya lampu jalan yang terang benderang di latar belakangi  bangunan-bangunan hotel  menjulang tinggi. Juga banyàknya pepohonan hijau sepanjang perjalanan, rasanya adem di mata. Yaa setelah 10 jam terbang yang kita lihat hanyalah hamparan  awan sejauh mata memandang.  

Kini terbayar sudah dengan pemandangan kota Mekkah nan cantik. Landscape-nya yang tertata apik, bersih, hijau dan teduh.

Tak terasa 2 jam lebih perjalanan menujuh Mekkah, sampailah rombongan di tanah Haram Mekkah.

BACA JUGA: Tak Disangka-sangka, Guru Besar UNS Prof Susy Ajak Saya Umroh​

Namun tidak mudah rupanya memasuki area sekitar Masjidil Haram lantaran jalanan masih crowded, meski jam sudah menunjukkan pukul 24.00 malam waktu Saudi. 

Hotel kami Azka As Saffa , bintang 5,. Karena jaraknya hanya 350 meter dengan Masjidil Haram, maka bus kami sulit untuk merapat ke halaman hotel, saking banyaknya kendaraan yang mengangkut jamaah umroh seperti kami ini.

Setelah berputar-putar  lima kali, akhirnya bus pun bisa merapat di halaman hotel dan kami bisa segera turun. Gercep petugas Dewangga yang sebelumnya sudah standby di hotel membagikan kunci kamar sesuai dengan list-nya.

BACA JUGA: Manajemen Dewangga Rapi, Perjalanan ke Tanah Suci Lancar dan Semuanya Mulus​

Pembagian kunci kamar beres, dan kami diberikan waktu 15 menit untuk ke toilet dan memperbaiki wudhu, setelah itu turun untuk berkumpul di lobby hotel.

Setelah rombongan komplit, jumlahnya 35 orang, kami pun siap untuk melakukan umroh pertama. Tepat pukul 01.00 dini hari, kaki kami melangkah menuju Masjidil Haram, dipimpin muthowif  ustad Syu'aib dan didampingi tour leader ibu Giat.

Hembusan angin yang dingin (18 derajat C) tidak menyurutkan langkah kita untuk memenuhi panggilan Allah.

"Laibaikallah humma Labbaik, laa syari kalla kalabbaik...." kalimat talbiyah terus kami kumandangkan sepanjang perjalanan menuju Masjidil Haram, hingga kami pun tiba di tempat di mana ada tanda start untuk melakukan Thowaf.

ita1.jpg

Bu Prof Susy, satu-satunya peserta dari Dewangga yang menggunakan fasilitas kursi roda, sudah ada petugas tersendiri yang memandunya. Petugas tersebut merupakan orang Indonesia yang bekerja di sana dan sudah 3 tahun tinggal di Mekkah beserta istri dan kedua anaknya yang masih kecil-kecil. 

Petugas ini tidak hanya mendorong kursi roda, tapi juga bertugas membimbing doa-doa ketika melaksanakan umroh, baik Thowaf maupun selama Sa'i.

Alhamdulillah umroh pertama berjalan dengan lancar, meski penuh sesak , lebih-lebih di tempat Sa' i, masya Allah penuh banget....

Yang membuat penulis benar-benar sedih ya kecewa sekaligus prihatin, banyaknya jamaah umroh yang memakai sanda atau sepatu baik di pelataran Ka'bah, maupun di antara bukit Shofa dan Marwah, serta di tempat-tempat lain seantero Masjidil Haram. Sejak kapan yaa pemakaian sandal di area mesjid diperbolehkan? Apakah fenomena ini akan dibiarkan terus? Apakah tidak mengotori masjid?? Harusnya kesucian masjid tetap terjaga dari najis? 

Pertanyaan itu berputar-putar terus saja di kepala, saya tanyakan ke Muthowif, pun tidak bisa menjelaskannya. Pasti akan ada jawaban yang bisa masuk logika, entah kapan....

Akhirnya umroh kami selesai dengan melakukan tahalul. Di tempat tahalul kami pun berjumpa lagi dengan Prof Susy... Oiya bagi pengguna kursi roda, Tawaf dan Sa'i ada jalur khusus, tawaf di lantai 2 dan Sa' i di jalur tengah, antara bukit Shofa dan Marwah.

"Alhamdulillah atas anjuran Bu Giat saya bawa kursi roda dari rumah, ternyata di sini kursi roda yg dipinjamkan ke jamaah habis terpakai semua," jelas Bu Prof saat menunggu giliran tahalul.

Umroh berakhir sekitar jam 03.15 saatnya kembali ke hotel untuk makan sahur. Setelah sahur selesai jam 04.00 subuh kita kembali lagi ke Masjidil Haram untuk tahajud berjamaah dan menunggu sholat subuh.

ita2.jpg

Di sini tidak ada waktu imsak, jadi batas sahur langsung adzan subuh jam 05.24.

Selesai subuhan tidak langsung balik hotel tapi kita khataman Alquran dulu sambil nunggu waktu dhuha. Habis Dhuha saya ajak teman sekamar saya (2 orang) untuk bisa mendekati Ka'bah. Meski penuh perjuangan akhirnya kami bisa sampai di depan pintu Ka'bah tempat mustajabah untuk berdoa, lanjut ke Hijir Ismail.dan ke Maqom Ibrahim. Setelah puas di tempat-tempat mustajabah kami mendekat ke rukun Yamani. Sayang perjuangan kami tidak berhasil. karena banyaknya orang-orang bangsa Arab yang datang untuk umroh, rombongannya banyak, orangnya besar-besar tinggi dan kuat. Akubarnya kami tidak bisa menyusup di sela-sela mereka untuk ke rukun Yamani maupun ke Hajar Aswad. 

Akhirnya kami pun menyerah. Selain tenaga sudah habis, juga kantuk yang mendera. Praktis sejak berangkat dari Solo jam 05.00 pagi subuh tanggal 3 Maret sampai 4 Maret jam 10.00 pagi, kami belum tidur dengan nyenyak. Selama di pesawat sih bisa istirahat, tapi yaa tidur-tidur ayamlah...

Akhirnya kami pun istirahat dengan nyaman setelah lelah berjuang di Baitullah ... (Bersambung)


Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :