KANALPojok Features

Mafia Migas di Desa Kita

Mafia Migas di Desa Kita
Foto ilustrasi: Istimewa

COWASJP.COM – Akhirnya kami pulang kampung juga. Setelah rencana awal “pulang basamo” Hari Raya Iedul Fitri yang lalu gagal. Karena adanya wabah Covid-19. Padahal sudah carter bus dan penginapan di kota Padang. 

Tapi begitulah! Beberapa hari sebelum lebaran haji lalu, keputusan itu diambil. Pulang kampung lewat jalan darat. Tidak pakai bus. Tapi konvoi 5 mobil bersama adik-adik dan keluarga masing-masing. 

Tujuan pertama kota Padang. Lalu ke kampung halaman, Rao-Rao Batu Sangkar, Sumbar. 

Perjalanan 10 hari pulang pergi. Sejak 26 Juli sampai 6 Agustus 2020. 

Perjalanan yang sungguh menyenangkan. Meskipun ada beberapa catatan yang apa boleh buat merusak kenyamanan dan kesenangan kami dalam perjalanan itu. 

Di antaranya, kondisi jalan yang tidak terurus dan masalah solar yang langka dan sulit didapatkan. 

Harus diakui, sudah ada prestasi yang dicapai pemerintah. Misalnya, dalam hal pembangunan jalan yang telah dilakukan begitu rupa. Karenanya perjalanan via tol dari kota pelabuhan Bakauheni sampai ujung tol Jakabaring, Palembang, sungguh menyenangkan. Dibutuhkan hanya 5 jam untuk mencapai kota Pempek itu. 

Konon, pembangunan tol sejauh 538 km itu disebut-sebut telah memotong waktu tempuh lebih dari separoh. Tentu saja, jika dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan tempo dulu, sebelum adanya jalan tol. 

Karena ada saudara yang hendak ditemui di Jambi, maka kami putuskan lewat Jambi. Mengingap satu malam di kota itu. Pagi hari Selasa 28 Juli 2020, barulah kami lanjutkan perjalanan menuju kota Padang. 

Persoalan pertama mulai muncul setelah melewati Jambi. Karena menggunakan mobil diesel, kami butuh solar. Dan ketika mengisi full solar sebelum berangkat meninggalkan kota itu, kami tidak menyangka akan mendapatkan masalah ini. Soalnya, mulai dari Muara Tebo, Saro Langun, Bangko, Muara Bungo, Sungai Rumbai, Sungai Dareh, Kiliranjao, Darmasraya, bahkan sampai ke Solok di Sumatera Barat, tidak satu pun SPBU yang menyediakan solar. 

Bahkan ketika memasuki jalan Lintas Sumatera, sungguh aneh menyaksikan pemandangan di setiap SPBU yang kami lewati. Khususnya malam hari. Masing-masing SPBU mengaku kehabisan solar. Truk-truk yang antri begitu banyak. Para sopir dan kenek memilih istirahat alias tidur di dalam truk masing-masing. Sebab menurut para karyawan SPBU, solar habis dan pasokannya baru akan datang sekitar jam 12 malam itu.

Hal ini tentu sangat menyedihkan bagi para sopir truk. Di antara mereka bukan mustahil punya target waktu untuk mengantarkan muatannya sampai ke tempat tujuan. Padahal solar sulit didapat. Mereka harus menunggu sesuatu yang tidak pasti. Apakah pasokan solar benar-benar akan datang malam itu juga tidak pasti. 

nasmay.jpgNaik kapal ferry menyeberang Selat Sunda. (FOTO: Nasmay L. Anas)

Kalau hanya satu dua SPBU saja yang kehabisan solar, itu pun oke. Tapi persoalannya, seluruh SPBU di sepanjang jalan dari Jambi sampai ke Solok di Sumbar kehabisan solar. 

Kok bisa?

Ketika kami memasuki kota Solok, lagi-lagi tidak ada SPBU yang menyediakan solar. Semua beralasan habis. Karenanya, sebagaimana di beberapa SPBU sebelumnya, kami terpaksa membeli Dexlite seharga Rp. 9.700,- per liter. Harga yang terlalu mahal dibandingkan solar yang hanya Rp. 5.150,- per liter. Jenis BBM yang tidak mungkin dibeli oleh para sopir truk yang anggaran solarnya tentu sudah dipatok oleh pihak perusahaan yang mempekerjakan mereka. 

Persoalan ini tentu mesti dijawab pihak terkait. Yang berwenang sekaligus bertanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat akan Bahan Bakar Minyak (BBM). Khususnya jenis solar. 

Di kebanyakan kota di Pulau Jawa, solar juga tidak selalu ada di setiap SPBU. Khususnya SPBU di pusat kota. Semua pemilik kendaraan diesel tentu sudah maklum. Begitu juga di Sumatera Barat. Walaupun cukup jelas terpampang tulisan “solar” di antara jenis-jenis BBM yang dijualnya, ternyata solar tidak selalu ada di setiap SPBU. 

Syukurlah di kota Padang dan beberapa kota lainnya keadaan mulai berubah. Beberapa SPBU tertentu masih menyediakan solar. Sehingga perjalanan kami menyusuri sejumlah kota dan tempat wisata di Ranah Minang sungguh menyenangkan. 

Kami tidak hanya dapat mencapai tempat wisata terdekat seperti Pantai Ayia Manih. Kawasan wisata yang dilalui melewati jembatan penyebarangan Siti Nurbaya yang terkenal itu. Tapi kami juga dapat menikmati suasana tenggelamnya matahari di Pantai Purus, Padang. Menikmati pemandangan alam yang tidak ada duanya di kawasan Manjuto Beach di Sungai Pisang, Pesisir Selatan. Melewati jalan yang berkelok dan berliku yang halus mulus mulai dari kawasan Bungus sampai ke Sungai Pisang. 

Sama menyenangkannya dengan saat berhenti di kawasan Kelok Sembilan di Kabupaten 50 Kota. Ketika para isteri dan anak-anak tidak sabar untuk turun dari mobil. Melakukan selfie atau berfoto bersama. Makan jagung bakar dan beberapa jenis minuman yang tergolong murah untuk ukuran harga di Pulau Jawa. 

nasmay1.jpgJalan Tol Bakauheni - Palembang. Mulus. (FOTO: Nasmay L. Anas)

Meskipun terkendala dengan kelangkaan solar, alhamdulillah kami masih dapat juga menikmati wisata kuliner yang enak-enak. Di kota Padang, Padang Panjang, Bukit Tinggi, Payakumbuh dan Batusangkar. Kami bahkan sempat menikmati buah durian super yang luar biasa enak. Yang disajikan dengan ketupat ketan di daerah Pariaman. 

Pedagang Solar Eceran

Kami bertolak kembali dari kota Padang menuju Bandung, Selasa (04/08) pagi. Dalam perjalanan pulang ini, kami ingin mencari suasana yang lain. Tidak lagi lewat Jambi. Tapi lewat Lubuk Linggau. Tempat yang kami pilih untuk istirahat. Sekadar untuk mengurangi rasa capek dan mengantuk di perjalanan. Menginap satu malam di sebuah hotel di kota itu.  

Lagi-lagi persoalan kelangkaan solar itu harus kami hadapi kembali. Persoalan yang satu minggu sebelumnya ternyata belum selesai. Solar tetap langka. Di sepanjang jalan Lintas Sumatera sampai ke Lubuk Linggau. Lagi-lagi kami terpaksa membeli Dexlite yang mahal itu. 

Awalnya kami ingin lewat jalur tengah. Yaitu Lubuk Linggau, Tebing Tinggi, Lahat, Baturaja, Martapura, sampai Kota Bumi di Propinsi Lampung. Di mana diperkirakan lewat Kota Bumi kami bisa masuk tol kembali di Terbangi Besar. 

Tapi akhirnya kami putuskan menuju kota Palembang kembali. Lewat Sekayu dan Kabupaten Banyu Asin. Jalur baru yang menyuguhkan suasana baru. 

Termasuk suasana baru dalam hal kelangkaan solar. Karena sama seperti di sepanjang jalan Lintas Sumatera, jalur Lubuk Linggau-Sekayu-Palembang ini ternyata juga kawasan langka solar. Kondisinya bahkan lebih serius. Semua SPBU yang kami datangi tidak satu pun yang menyediakan solar. 

Lucunya, hampir di sepanjang jalan, bahkan berhampiran dengan lokasi SPBU, terdapat begitu banyak pedagang eceran. Mereka secara terang-terangan menjual solar dan beberapa jenis BBM lainnya menggunakan jerigen. Solar yang di SPBU dijual Rp. 5.150,- per liter, mereka menjualnya Rp. 7.000.- per liter. Karenanya, ketika kondisi solar di mobil kami sudah mulai kritis, kami harus membeli solar itu. Meskipun dengan perasaan was-was dan khawatir. 

Bagaimana kalau solar itu mereka campur dengan sesuatu yang lain? Agar mendapatkan untung yang lebih banyak. Bagaimana kalau begini dan begitu?

Bagaimanapun, apa boleh buat, kami terpaksa membeli solar dalam jerigen itu. Terpaksa terima nasib. Sambil berharap perlindungan dari Allah SWT. semata.

Melewati kota Sungai Musi, Palembang, kami kembali melewati jalan tol yang halus mulus. Meskipun tidak semulus suasana yang diberikannya. Sebab, Rest Area (RA) memang sudah tersedia di banyak lokasi. Tapi rata-rata RA itu belum berfungsi. Belum banyak tersedia tempat makan dan minum. Begitu juga dalam hal ketersediaan solar. 

Berulang kali kami memasuki SPBU, berulang kali pula kami harus mengurut dada. Karena ketiadaan solar. Ketika sampai di KM 238 bahkan Dexlite pun tidak ada. Yang ada hanya Pertamina Dex. Yang dijual dengan harga Rp. 10.600,- per liter. Artinya, Rp. 900,- lebih mahal dari pada Dexlite. Sesuatu yang terpaksa kami beli, karena kondisi solar yang sudah menipis. 

Persoalan kelangkaan solar tentu jadi masalah besar bagi kendaraan yang menggunakan BBM jenis ini. Kasihan sopir-sopir bus dan truk yang membutuhkannya. Berbincang dengan Ade (nama samaran), seorang karyawan SPBU, kami bahkan mendapatkan informasi yang mengagetkan. 

“Kami juga khawatir, Pak. Kami takut sopir-sopir itu ‘ngamuk’. Karena ketiadaan solar di mana-mana itu,” katanya. 

Persoalan ini tampaknya sudah begitu akut. Barangkali tidak akan terselesaikan dalam semalam. Sambil bercanda beberapa pengendara berseloroh: “Ini mafia. Mafia Migas sekarang tidak lagi di Singapura adanya. Tapi sudah ada di desa-desa kita.”

Walaupun ini candaan, tapi persoalan ini begitu serius. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul mesti dicarikan jawabannya. Misalnya, kenapa solar begitu langka? Kenapa pula pedagang eceran dibiarkan begitu rupa? Bukankah kalau di Pulau Jawa menimbun solar lebih dari 10 jerigen sudah ditangkap polisi? 

Di antara mereka tidak hanya menyediakan solar dengan jerigen, tapi juga dalam wadah yang lebih besar. Kenapa itu dibiarkan? Dari mana mereka mendapatkan pasokan solar, sementara di SPBU tidak tersedia? Bukankah ini bagian dari bentuk “mafia” juga? (Bersambung)

Oleh: Nasmay L. Anas, Wartawan Senior di Bandung dan pemerhati persoalan publik. 


Pewarta : Nasmay L. Anas
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :